Dialog Tuan Puteri & Abah Rahman Soal Ritual 1 Syarat 1001 Hajat

0
156

Oleh: A Rah.

SEPERTI Ratu Kidul, sosok Puteri Hijau pun tak kalah fenomenal. Ratu sakti dari abad ke-13 berwajah bak bidadari ini tetap diyakini sebagai penguasa gaib Tanah Deli hingga semua wilayah pantai timur Sumatera Utara. Pertanyaannya, di manakah kini keberadaan piandel warisan sang legenda hidup itu?.

Piandel adalah konsep atau ide. Ia lahir dari keyakinan dan kepercayaan. Seperti warisan tokoh-tokoh leluhur lain, piandel-piandel Puteri Hijau juga berwujud benda pusaka. Jumlahnya tentu tak sedikit. Semuanya bernilai fenomenal, penuh daya pikat, plus sarat akan lambang yang harus dihayati, dimengerti dengan baik dan benar. Itu jika Anda ingin merasakan keberkahan karomah pusaka baheula tersebut.

Nah, bertahun-tahun turut menjaga kelestarian petilasan Puteri Hijau di Pancur Gading, Deliserdang, Sumatera Utara, Abah Rahman menjadi satu di antara sedikit tokoh spiritual Deli yang paham soal piandel Ratu Kerajaan Aru itu. “Piandel Tuan Puteri sebenarnya bukanlah berisi tentang sesuatu yang pantas disembah dan dipuja. Di sini orang-orang sering salah,” kata Abah Rahman, ditemui di sela rutinitas menuntaskan ragam problem para pasiennya, Rabu (23/5/2018) sore.

Paranormal ini diketahui selalu menyebut Puteri Hijau dengan sebutan Tuan Puteri. Dan itu bukanlah terjadi tanpa sebab. Bertahun-tahun meresapi energi gaib di petilasan keramat sang ratu membuat penekun spiritual ini sering didatangi Puteri Hijau lewat mimpi. “Piandel Tuan Puteri,” sambungnya, “sejatinya adalah wahana. Wahana yang berwujuddan berisikan doa atau segala harapan baik untuk tuntunan hidup manusia.”

Bicara soal doa, kemujaraban tuah puteri jelita itu tentu telah lama diakui. Pancur Gading menjadi satu di antara sederet bukti soal itu. Wilayah berupa hamparan ‘sepi dan aneh’ itu adalah fakta soal hebatnya kekeramatan petilasan Puteri Hijau. Lembah di tepi Sungai Deli dan diyakini sebagai bekas istana Kerajaan Aru itu memang diketahui tak pernah sepi.

Datang dari delapan  penjuru angin, puluhan orang saban hari tumpah di sana. Semuanya mencari berkah dan pertolongan secara mistis. Tak hanya para pencari berkah, Pancur Gading tentu juga acap didatangi kalangan spiritual pemburu piandel Puteri Hijau. Di antara puluhan penggiat dunia okultisme yang telah mendaulat Pancur Gading sebagai ‘tanah suci’ mistis, Abah Rahman masuk kategori sosok spiritualis yang beruntung.

Itu karena kesabaran menjalani ritual di sana mengantar nasibnya menemukan sebuah piandel Puteri Hijau. Benda sakti itu berwujud  gandul kalung. Dipakai Abah Rahman saban menggelar ritual mengobati pasien, 1001 kemujaraban diketahui terformulasi dalam benda tak sembarang itu. Apa saja? Pengasihan, pelarisan, keselamatan, kewibawaan, kerezekian adalah lima di antara seabreg manfaat lain dari kalung itu.

“Tuah piandel Tuan Puteri ini memang sangat komplit. Bisa untuk apa saja. Jadi maknanya, satu kalung untuk 1001 macam hajat. Tapi belakangan, setelah semakin sering dipakai dan menunjukkan keampuhan, maknanya menjadi ‘satu syarat untuk 1001 hajat’. Syarat tunggal yang wajib dilakukan untuk segala macam keinginan itu adalah : rajin kirim sesajen. Semakin sering kirim sajen, bukti kemujarabannya pun semakin hebat,” bebernya.

Bagaimana rupanya cerita hingga piandel Puteri Hijau didapat cenayang ini? Proses kemunculan kalung sang ratu tentu terjadi secara mistis. “Kemunculan kalung ini diawali mimpi. Dan mimpi itu datang setelah saya tapa berhari-hari,” jelas Abah Rahman. Ceritanya, dalam mimpi di Kamis Wage setahun lalu itu, Abah Rahman dipanggil Tuan Putri bahkan kemudian diajak ke istananya. Di dalam istana itu, Tuan Putri tampak didampingi banyak dayang.

“Kalau Tuan Puteri kakinya seperti kita manusia. Tapi tidak dengan dayang-dayangnya. Meski pun memiliki wajah cantik, kaki mereka berbeda-beda. Ada yang berkaki kuda, harimau, pokoknya kaki binatang.Tapi sampai di sini, semua adegan itu berlangsung tanpa dialog.”

“Saya masih ingat betul kalau saat itu saya lalu dimandikan dengan air mendidih sampai badan ini melepuh. Tapi saya tak menjerit. Tak ada rasa sakit sedikit pun. Begitulah. Setelah itu saya disuruh tidur  sambil sekujur badan ini ditutupi kain putih dan baru boleh bangun keesokan harinya. Setelah terbangun, saya baru sadar kalau rambut saya telah rontok habis.”

“Di situlah baru dialog terjadi. Saat itu, Tuan Puteri memberi wejangan. Tuan Puteri meminta agar saya harus menolong orang yang kesusahan. Saya kemudian dikasih sebuah gandul kalung. Tapi Tuan Puteri tak menjawab saat saya tanya untuk apa kalung itu. Lalu tiba-tiba saya terbangun dari tidur yang sebenarnya dan menemukan kalung ini di balik bantal.”

“Mana bisa difoto! Sudah malas hidup rupanya? Kalau memang bisa difoto, rencana pembuatan film Puteri Hijau beberapa tahun lalu tentu juga bisa terjadi,” tandas Abah Rahman saat wartawan ingin mengabadikan kalung dari dunia antah berantah itu. Aneh, tapi itulah faktanya : tak terhitung sudah jumlah orang beragam masalah yang terbantu lewat khasiat kalung tersebut. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here