Ketuk Pintu Langit Buka Aura Pelarisan

0
45

Oleh: A Rahman.

HARI itu, Jumat Wage 4 Mei 2018. Sang Hyang Bagaskara sudah lengser ke barat. Panas pun tak lagi terasa menyengat saat rombongan peserta ritual pelarisan yang dipandu Abah Rahman tiba di areal sebuah makam keramat di Patumbak, Deliserdang, Sumatera Utara.

Bagi penggiat ziarah ke makam-makam keramat tentu sudah tahu letak pusara tua orang sakti era baheula itu. Semasa hidup, pemilik jasad di balik makam itu dikenal menjalin hubungan dekat dengan Sang Maha Kuasa. Saking menjalani hidup hanya untukNya, doa-doa datuk sakti itu dikenal sangat mujarab.

Begitulah. Seperti ritual-ritual senada sebelumnya, setiba di lokasi ritual, rombongan segera mengucap salam. Di sini, seiring membacaa lantunan bacaan khusus yang diberi Abah Rahman, batin para peserta juga harus fokus. Fokus mengenang dan mentauladani sikap sang datuk kala hidup. Juga memanjatkan doa baginya agar selalu mendapatkan ampunan Tuhan.

Dibimbing Abah Rahman, para peserta diminta fokus, khusuk untuk mengikuti tahap demi tahap dari ritual itu. Dengan memejamkan mata, bibir mengatup, pikiran pun difokuskan ke hati. “Ayo, terus kuatkan konsentrasi. Mata batin jangan lagi bercabang.” Abah Rahman mengomandoi prosesi ritual gaib yang diikuti 8 lelaki dan perempuan paruh baya itu.

Usut punya usut, mereka adalah sosok pedagang yang bermukim di Medan sekitarnya, Binjai, serta Tebing Tinggi. Rata-rata mereka pemilik usaha rumah makan. Delapan peserta itu duduk bersila mengelilingi makam. Mereka tampak khusuk. Berharap berkah dari doa tokoh suci yang melegenda itu. Ibarat dewa, tokoh ini adalah Dewa Indera. Berbagai ilmu ada padanya. Itu
yang membuat makamnya selalu ramai diziarahi orang-orang yang mencari berkah.

Tirakat hening itu berlangsung hampir satu jam. Usai tirakat, masing-masing peserta lalu mengambil dan meminum air khusus dari Abah Rahman. Itu tentu bukan air  biasa. Sesi meminum air berkah itu juga harus dijalani dengan niatan kuat di hati. Tentu niat agar pintu pelarisan usaha terbuka selebar-lebarnya.

Teng! Ritual babak pertama itu usai persis saat Sang Hyang Bagaskara terbenam di ufuk barat. Malam itu, usai rehat sesaat,  lokasi ritual pun berpindah. Dari makam sang tokoh linuwih, para peserta lalu bergerak menuju Delitua, Deliserdang. Perjalanan persisnya menuju Pancur Gading yang berada di tepi Sungai Deli di Delitua.

Ya, siapa tak kenal dengan lokasi yang sangat dikenal keramat itu. Itulah petilasan Puteri Hijau.  Setiba di areal yang terdapat sejumlah mata air keramat itu, para peserta pun membersihkan badan, mandi, berganti pakaian, dan makan malam. Sekitar pukul 22, ritual sesi kedua pun dimulai.

Di babak inilah Abah Rahman mulai menyalurkan energi gaib dari lokasi itu kepada masing-masing peserta ritual. “Pernah dengar aji Satya Dayu Kumara Jati?” Abah Rahman bertanya sebelum sesi puncak itu dimulai. Semuanya menggeleng. Ops, ada satu yang mengangguk. Menurut lelaki yang belakangan diketahui bernama Edi Sukardi (56) itu, Satya Dayu Kumara Jati
adalah kemampuan non fisik dan dimiliki setiap manusia sejak lahir.

Penjelasan singkatnya membuat Abah Rahman mengangguk. “Nah, ini pun seperti itu,”  ujar Abah Rahman. “Energi yang sebentar lagi saya salurkan merupakan kekuatan non fisik. Dia abstrak. Tidak dapat dilihat, tetapi dapat dirasakan. Pengertian sederhananya, energi gaib itulah nanti yang bekerja merealisasikan keinginan Anda agar menjadi kenyataan. Pertanyaannya,

bagaimana cara kerja ilmu atau kekuatan gaib itu?” Cenayang itu pun semakin dalam bercerita.

“Dalam mengarungi hidup,banyak manusia hanya memanfaatkan kemampuan fisiknya semata. Hanyasedikit dari mereka yang memanfaatkan kemampuan non fisiknya. Kalau anugerah dari kemampuan itu sering  dilakukan, keyakinan kita soal bumi langit dan seisinya ini diberikan Tuhan untuk hajat manusia akan sangat besar di hati ini. Dengan keyakinan yang besar itu, selanjutnya tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.”

“Rasakanlah,  energi ini nanti bagaikan tambang emas bagi Anda. Dia seperti generator pembangkit tenaga yang tidak pernah padam. Karena itu, kerja ilmu pelarisan ini nonstop 24 jam, siang malam tanpa henti untuk kepentingan kehidupan Anda. Energi dari ilmu ini tidak pernah menolak perintah apa pun yang Anda pikirkan. Pokoknya sangat penurut. Syaratnya? Hanya dua. Itulah kesabaran dan kepercayaan diri.”

Usai kuliah singkat itu, ritual ‘mengetuk pintu langit’ guna pelarisan hidup itu pun dimulai. Semua peserta tampak bersila, khusuk di sekitar petilasan keramat di Pancur Gading. Di sesi ini, 3 peserta ditemukan berulang kali tak fokus dengan batin masing-masing. Karena itu, mereka akhirnya baru menyelesaikan ritual nyaris hingga jelang Subuh.

Nah, sejak pagi Sabtu 5 Mei itu, amalan dari ritual itu pun sudah bisa dilakukan di rumah atau tempat usaha masing-masing peserta. Hasilnya? “Memang tak segampang ngomong. Dari laporan mereka yang saban hari terus berkomunikasi dengan saya, sampai hari ini baru 3 dari 8 peserta itu yang usahanya mulai menampakkan perubahan yang bagus. Yang lain atau 5
peserta itu mengaku memang masih sering tak fokus menjalanankan amalan itu. karena kekuatan rasa sabar dan kepercayaan diri mereka masih naik turun seperti nasib rupiah terhadap dollar. Tapi mereka tentu terus berusaha. Mosok mereka mau rezeki usahanya terus seret.  Kan gak,” beber Abah Rahman, ditemui Minggu (13/5/2018) sore.

Digelar rada kolosal sejak 2009, tak terhitung sudah jumlah pelaku dunia usaha yang mengikuti ritual pelarisan bersama paranormal ini. “Dari semua itu, ya sekitar 80 persen mengaku telah berhasil,” timpal Jimmi Ginting (43), warga Pancur Gading yang mengaku suka mengamati hasil dari ritual orang-orang yang mendatangi Abah Rahman. Penasaran? (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here