Diserang Gaib, Rumah Makan Buka Terlihat Tutup

0
186

Oleh :Abah Rahman

Pernah aku melihat musik di Taman Ria, Iramanya Melayu duhai sedap sekali Iramanya Melayu duhai sedap sekali

Sulingnya suling bambu, Gendangnya kulit lembu, Dangdut suara gendang rasa ingin berdendangTerajana, Terajana…

BAIT lagu ‘Terajana’ Rhoma Irama terdengar sayup di sebuah rumah makan, tak jauh dari jalan lintas Perbaungan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Di situlah Nofrizal (43) dan keluarga menyandarkan kehidupan.

Waktu itu jelang Isya. Honda Beat parkir di depan rumah makan. Cat hijau telur asin melapisi dinding luar. Bagian depan mulai terkelupas. Nyaris memudar. Nofrizal duduk di balik meja belakang steeling rumah makan. Tak ada satu pun pengunjung atau pembeli yang datang. Itu terjadi sejak siang.

Temuan apes bin aneh serupa bahkan sudah terjadi sejak hampir sebulan. Dahi Nofrizal mengernyit. Asap rokok mengepul dari mulutnya. Di depannya Lina (13), putrinya, duduk termangu. Matanya sayup. Dua orang adik Lina bermain tak jauh dari rumah makan sekaligus tempat tinggal itu.

Di belakang dalam bangunan rumah makan itu ada kamar tidur. Luasnya 2×3 meter. Di dalamnya hanya muat satu buah tempat tidur tunggal, berukuran dua orang. Coretan-coretan memenuhi dinding kamar berwarna krem itu. Sebuah foto lama pernikahan menjadi satu-satunya pajangan kamar. Gorden merah menutupi jendela kamar. Di bawahnya Gusnaini (35) menangis. Istri Nofrizal atau ibu Lina itu bersandar pada sudut kamar. Merenung nasib masa depan rumah makan keluarganya.

Fakta pilu keluarga itu disaksikan Abah Rahman, awal Oktober 2017. Temuan terjadi setelah Nofrizal mengontak dan meminta paranormal itu datang ke rumah makannya. “Ya memang sengaja dibuat sepi (pembeli). Usaha rumah makan itu kena serangan guna-guna,” jelas Abah Rahman. “Sekarang ya sudah tidak (sepi) lagi. Bahkan jadi semakin ramai. Itu alamat persisnya, silahkan cek.” Lewat SMS, Abah Rahman mengirim alamat detail rumah makan itu ke ponsel wartawan Anda.

Menurutnya, kisah jahat serupa juga telah dilewati Amrizal, pemilik sebuah rumah makan di Kota Perdagangan, Simalungun. “Yang di Perdagangan malah lebih seram. Sudahlah sepi, rumah makannya malah beberapa kali jadi lokasi orang berantam. Sampai hancur steling,” imbuh Abah Rahman. “Dan asal malam, kunang-kunang selalu ditemukan banyak di sekeliling rumah makannya,” imbuhnya lagi.

Kenangan kisah guna-guna menyerang usaha rumah makan Nofrizal dan Amrizal, Sabtu (5/5/2018) sore lalu dibeber Abah Rahman karena modus mistik serupa kembali ditemukan. Kali ini dialami 2 pemilik rumah makan di Mabar, Medan Deli, dan kawasan Tanah Seribu, Binjai Selatan. Ferizal dan Nasrul, dua pengusaha rumah makan itu, mendatangi Abah Rahman secara berantai sepanjang pekan pembuka Mei 2018. Cenayang itu bercerita.

Kisah aneh yang dibawa Ferizal dan Nasrul juga tak beda dengan fakta telah dilalui Nofrizal dan Amrizal. “Memang ada yang sengaja menyumbat, menutupi rezeki dari usaha mereka. Itu mulai diketahui saat beberapa langganan selalu bilang soal rumah makan mereka yang tutup terus. Padahal buka terus setiap hari,” jelas Abah Rahman.

Seperti telah dilalui Nofrizal dan Amrizal, tokoh supranatural itu kini tengah kencang menggelar ritual guna mengenyahkan guna-guna yang menyerang rumah makan Ferizal dan Nasrul. “Sampai akhir pekan ini mereka setiap hari masih harus ke sini,” kata Abah Rahman soal kewajiban Ferizal dan Nasrul mendatangi Pancur Gading, pemandian Putri Hijau di Delitua, Deliserdang.

Tak hanya dikenal sekalangan orang yang dirundung masalah asmara, kemampuan supranatural Abah Rahman juga diakui banyak pedagang atau pengusaha, terutama pemilik rumah makan atau usaha kuliner. Mereka mendatangi ahli batin itu tentu dengan membawa keluhan soal seretnya rezeki. Dagangannya sepi.

Lewat serangkaian ritual gaib disertai doa sang Abah yang diijabahNya, sekalangan pengusaha itu akhirnya memang diketahui keluar dari keterpurukan ekonomi. Penghidupan usaha mereka pun kembali menjadi cerah. Pengakuan sebagian dari mereka bahkan telah menyebar di media sosial dan banyak media cetak terbitan Medan. Itu memang diminta Abah Rahman untuk memastikan manfaat ritual darinya bukanlah hoax alias kebohongan.

Menurut Abah Rahman, untuk mengatasi toko atau rumah makan, warung kelontong, warkop, distro, atau tempat usaha yang sepi karena serangan guna-guna dari sang pesaing, solusinya ada dua langkah. “Pertama, penutup gaib itu harus dihilangkah lebih dulu. Cara untuk menghilangkan pengaruh guna-guna itu sebenarnya macam-macam. Tapi yang paling gampang dengan ritual ruwat mandi di Pancur Gading. Solusi kedua, agar dagangan kembali laris, disyaratkan menggunakan sarana pelarisan dagang,” tandasnya. So? (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here