SUPRANATURAL. Ini dunia rasa. Dunia batin. Karena ‘syariat’ dan hakekatnya beda, di lajur ini akal rasional memang menjadi sangat bias. Tapi fakta kehadirannya tak dapat dibendung oleh kilaunya modernisasi dan kemajuan teknologi. Nah, direm atau tidak, keyakinan terhadap supranatural atau patron mistis sejatinya telah lama menjadi bagian dari tradisi banyak
masyarakat negeri ini. Ini cukilan bukti soal itu.

Abah Rahman, praktisi supranatural di Medan dan telah memiliki klien dari ragam profesi, adalah salah satu saksi kuat atas fenomena kepercayaan terhadap dunia antah berantah itu. Bahkan, karena spesialisasi ilmu kebatinannya, dia pun seperti cermin dari fakta para peziarah yang berdatangan memenuhi sejumlah makam yang diyakini keramat.

“Saat kekisruhan hidup tak kunjung berhenti, perseteruan atau intrik terus terjadi, dan segala jalan rasional yang dibuat tak juga dapat membereskan semua masalah itu, maka saat itulah mereka akhirnya memilih cara supranatural,” jelas Abah Rahman soal latar emosi dari banyak orang yang mendatanginya, sepanjang 8 tahun terakhir. Sepanjang itu pula, makin tahun
tingkat kepercayaan publik terhadapnya tampak makin berkembang. Setidaknya, demikian gambaran pergaulannya di jejaring media sosial.

“Maaf,” sambungnya, “(sosok) yang nyandang sarjana S-2 pun terhitung (jumlahnya) sudah puluhan yang mendatangi saya. Jadi semaju apapun jaman, sejenius apapun manusia, dunia supranatural sebenarnya kini malah semakin menempatkan posisi dan perannya secara vital sebagai tempat bersandar banyak orang yang akal pikirnya buntu dalam menyelesaikan masalah hidup. Itu wajar karena apa pun ranah masalahnya, sosial, ekonomi, atau politik, kekuatan supranatural telah ‘bicara’ untuk menyelesaikan itu semua.”

Secara pengetahuan, daya supranatural diketahui dapat terakses lewat rutinitas mengasah kemampuan kalbu atau mata batin. Nah, ngomong-ngomong, di makam keramat mana dahulu Abah Rahman kali pertama mengeksplorasi daya intuisinya? Seperti Ki Joko Bodo atau juga Eyang Ratih, Abah Rahman pun awalnya sosok pegiat seni. Khususnya seni jurnalisme.
Ketertarikan awalnya pada dunia gaib dimulai 15 tahun lalu saat dia menjadi wartawan supranatural di sebuah media harian terbitan Medan. “Persisnya saat dia berhasil mewawancarai Musa, bocah pembongkar puluhan kuburan di Medan yang saat itu jadi peristiwa heboh. Tak banyak orang yang bisa mengajak anak aneh itu untuk ngomong, tak juga polisi yang saat itu menangkap dan menahannya. Tapi dengan keanehannya pula, (Abah) Rahman berhasil menerobos hambatan itu,” kenang Faisal Matondang, bekas atasan sang Abah saat menjadi wartawan. Ia juga masih ingat.

“Baginya,” imbuh Faisal, “setiap berita peristiwa berbau supranatural yang saat itu ditulisnya bukanlah sekadar cerita yang ‘dilangit-langitkan’. Dia menimpali setiap reportase supranaturalnya dengan belajar sejarah agama, antropologi, serta sejarah banyak kerajaan yang punya mitologi kuat di nusantara. Dari situ dia baru turun ke makam-makam keramat dan diam-diam mulai sering semadi, tidak hanya meliput. Di situlah ilham atau kegaiban mulai mendatanginya.” Abah Rahman ternyata bukan dukun ‘produk instan’. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here