Pemalang – Zonadinamika.com.Nasib naas tersebut dialami oleh Ratna Dewi, (19), warga perumahan Taman Asri, kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Putri dari Rustiningsih ini, mendapatkan tugas dari ibundanya untuk mengambil uang di ATM (anjungan tunai mandiri.red) BANK BRI Unit Taman, (19/10). Dia yang berniat mengambil uang di atm sejumlah 950.000 di mesin atm bertuliskan pecahan 50.000, namun justru yang keluar dari mesin tersebut adalah uang pecahan 100.000 yang secara otomatis keluar sepuluh lembar uang 100.000 dengan nilai 1.000.000.

“iya, mas. Saya mengambil uang senilai 950.000 di mesin atm pecahan 50.000, namun yang keluar adalah sepuluh lembar pecahan 100.000 dengan total nilai 1.000.000. Karena sisa saldo di atm saya berjumlah 1.040.000. Setelah itu, saya langsung pulang dan menyerahkan uang tersebut ke ibu.”, ungkapnya, (1/11).

Keganjilan tersebut nampaknya menjadi awal peristiwa naasnya. Bagaimana tidak, selang beberapa hari, rumah ratna didatangi seseorang yang mengatasnamakan dari pihak penyedia jasa keuangan (vendor.red), bernama iwan tersebut, menginfokan kepada ibundanya, bahwa ada kelebihan uang yang ditarik oleh ratna, (25/10).

“apakah benar ini rumah rustiningsih? Saya dari vendor bank bri. Saya menyampaikan bahwa ada kelebihan uang yang ditarik oleh anak ibu.”, tutur sang ibunda sembari menirukan perkataan iwan.

Tidak sampai disitu, dua hari kemudian, (27/10), rumahnya kembali didatangi oleh orang yang tidak dikenal bernama Kadek Budi Yasa guna menagih lebihan uang yang ditarik ratna sebesar 900.000. Kedatangan pria berpakaian seragam security dari Pt. Bringin Gigantara yang berkantor pusat di Graha Simatupang Tower 2A lantai 5, Jl. TB. Simatupang Kav 38, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 12540, tersebut lengkap dengan surat tugas dan hasil rekaman cctv yang menunjukkan seseorang yang diduga Ratna Dewi sedang menghitung uang di depan mesin atm.

Tak ayal lagi, kedatangan kadek tersebut membuat ratna dan ibundanya bagaikan tersambar petir di padang pasir. Pasalnya, ratna yang hanya mengambil uang 1.000.000, dan sama sekali tidak merasa mengambil uang 1.800.000, tetapi harus melunasi uang senilai 900.000. Itupun kadek menawarkan pinjaman dana (ditalangi.red) untuk melunasinya. Namun kemudian ratna hanya memberikan uang senilai 100.000 kepada security tersebut. Itu pun terbagi dua, yakni 50.000 uang ibundanya, dan yang 50.000 lagi uang lebihan.

“Mas, saya itu hanya mengambil 1000.000 saja. Bukan 1.800.000, seperti yang dikatakan oleh kadek. Lhah kok saya justru disuruh mengembalikan uang 900.000 yang katanya lebihan uang itu. Ya pada akhirnya saya kasih uang 100.000 dengan rincian 50.000 itu uang ibu, yang 50.000 lagi uang lebihannya.”, imbuhnya.

Merasa dirinya dihantui oleh lebihan uang tersebut, ratna dan ibundanya pun menuju ke kantor cabang bank bri pemalang, dan langsung diterima oleh Gading yang bertugas sebagai costumer servis bank bri. Setelah menceritakan semuanya kepada gading, mereka berdua pun dipertemukan dengan pimpinan bank bri kcp pemalang, (29/10). Dijelaskan oleh Pimpinan Bank BRI KCP pemalang, bahwa beberapa waktu lalu terjadi kesalahan pengisian uang di ATM, yang seharusnya mesin ATM bernominal 50.000, namun terisikan dengan uang dengan nominal 100.000.

“terkait masalah saya, pihak bank bri berjanji akan melakukan cross-check kasus tersebut ke pihak PT. Bringing Gigantara.”, pungkasnya.

Ditempat terpisah, Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI.red), Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA., ketika dikonfirmasi tentang adanya berita tersebut, (1/11), mengatakan, dirinya mendapatkan laporan langsung oleh ratna dan ibundanya dan sangat menyesalkan dengan adanya vendor yang seperti itu.

“Mereka berdua sudah lapor ke saya. Ya jujur, saya menyesalkan hal itu.”, tandasnya.

Terakhir, pria paruh baya lulusan PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 ini juga menghimbau agar setiap orang yang mengambil uang di ATM selalu memperhatikan jumlah uang yang diterima dari mesin ATM-nya, dan menyimpan resi bukti pengambilan dananya.

Tak lupa, dia juga mengeluarkan pernyataan yang ditujukan untuk semua pihak, agar kedepannya tidak terulang lagi peristiwa yang sama.

Berikut ini, adalah kutipan dari pernyataan ketua umum ppwi tersebut:

1. Meminta kepada Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mempertimbangkan dan jika perlu memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan vendor penyediaan uang di ATM BRI, yakni PT. Bringing Gigantara. Sebagai bank milik rakyat, seharusnya pihak BRI senantiasa memberikan pelayanan terbaik bagi rakyat yang menjadi nasabahnya. Kejadian yang dialami warga Pemalang itu bisa saja hanya merupakan salah satu puncak gunung es dari banyaknya kasus buruknya pelayanan transaksi di mesin ATM selama ini.

2. Menghimbau masyarakat perbankan agar selalu melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap semua stakeholders yang menjadi mitra kerjanya selama ini, termasuk para vendor penyedia dana di mesin-mesin ATM mereka.

3. Mendesak pihak PT. Bringing Gigantara untuk meminta maaf kepada warga Pemalang, Ratna Dewi dan keluarga, atas keteledoran dan perlakuan tidak menyenangkan yang mereka lakukan terhadap warga masyarakat yang notabene adalah nasabah BRI.

4. Meminta Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar melakukan investigasi dan pendataan serta tindakan yang diperlukan atas lembaga usaha di bidang perbankan dan keuangan yang tidak mampu bekerja secara professional.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Bank Bri, Kadek, dan juga Pt. Bringin Gigantara, sama sekali belum ada jawaban ataupun tindakan yang telah terjadi. (dentang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here