Salahi Amdal Lalin, Proyek Saluran Makan Korban

0
125

Surabaya – zonadinamika.com. Pelaksanaan pekerjaan saluran tipe 11 (Jl. Manukan Krajan gang Raya RT. 07) dengan nilai Pagu sebesar 1 Milyar Rupiah, Harga Pokok Satuan (HPS) sebesar Rp. 955.977.000,00 dengan Harga Penawaran Rp 793.467.217,00 yang dimenangkan CV. Karya Indonesia. Proyek saluran ini bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

Diketahui pada hari Sabtu, (5/5/2018), sekira pukul 08.00 WIB dilokasi pekerjaan terjadi kecelakaan yang tertimpa pada pasangan suami istri (pasutri). Korban pasutri ini terjungkal terperosok jatuh yang diduga tidak ada rambu pada pelaksanaan pekerjaan tersebut seharusnya pelaksanaan pekerjaan konstruksi harus ada Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Korban pasutri ini bernama Usman (84) dan Suharti Ningsih (68), warga sekitar. Berawal ketika melintas hendak ke pasar membeli sesuatu, korban pasutri tergelincir jatuh yang disebabkan lumpur pekat tanah bekas galian. Warga pun berlarian, berkerumun ramai kemudian korban pasutri dibawa ke puskesmas terdekat.

Setelah pulang dari puskesmas hanya diberi pertolongan pertama, korban menderita luka memar pada kaki, tangan, pelipis mata sebelah kiri dan luka kulit sobek pada dahi sebelah kiri sekitar dua sentimeter.

Dari pantau awak media, peletakan U-Ditch semrawutditengah jalan dan progres tahap pekerjaan tanah pada pelaksanaan pekerjaan saluran ini seperti saat galian seharusnya tanah bekas galian tersebut langsung dibuang pada lahan yang sudah disediakan Pemkot Surabaya bukannya dibiarkan menumpuk seperti bak sampah. Padahal sudah tertuang pada metode teknis pelaksanaan pekerjaan saluran.

Disinggung terkait rambu yang tak terpasang, sudah dijelaskan pada riset teknis K3 dan juga pada Amdal Lalin seharusnya diberi policeline untuk mengetahui bahwa area tersebut berbahaya.

Berdasar KUHPer pasal 1365 berbunyi “Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut“.

Hingga sekarang pihak Kontraktor Pelaksana belum menemui korban pasutri untuk pertanggungjawaban yang disebabkan oleh kelalain pekerja. Padahal tiap kali pekerjaan Pemkot pasti ada Konsultan Pengawas dan Pengawas Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya. Dengan ini dapat diartikan bahwa fakta dilapangan tupoksi Pengawas tak efektif. (dms)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here