“CAVAQUINHO IS THE GRANDFATHER OF KERONCONG”

0
121
Julio Pereira musisi Cavaquinho Portugis bersama Ketua IKBT Erni Lisje Michielsdan Orkes Poesaka Krontjong Moresco Toegoe Anno 1661

Cavaquinho adalah kakek dari Keroncong. Ungkapab itu disampaikan oleh Master Cavaquinho dari Portugis ; Julio Pereira. Seorang musisi handal dari negara Republik Demokratik Portugal.

Memang jika ditarik benang merah menurut naskah Peregrinacao tentang petualangan pelaut Portugis, Fernao Mendes Pinto tahun 1555 dengan rekannya de Meirelez, penyanyi dan pemusik handal membawa cavaquinho, gitar kecil Portugis dalam pelayaran ke China. Naskah itu juga memuat laporan Philipe de Ceverel pada tahun 1582 yang menyebutkan pelayaran dengan 10.000 gitar cavaquinho yang berangkat bersama para pelaut Portugis ke Maroko. Itu artinya cavaquinho sudah populer di abad XVI sehingga tidak mustahil juga cavaquinho dibawa ke timur melalui Goa hingga Maluku atau pelayaran melalui ke Caribia hingga Hawaii.

Sejarah menunjukkan bahwa hanya musik Portugis yang diwariskan dalam bentuk Keroncong di Kampung Tugu yang tetap hidup hingga kini.

Tetapi di daerah yang didatangi Portugis bersama cavaquinho diduga diadaptasi maka di Kampung Tugu sendiri gitar cavaquinho menjelma menjadi gitar kecil dengan tiga ukuran mulai dari besar hingga kecil ; Jitera, Macina dan Prunga yang semua berdawai lima. Tetapi justru kini di Kampung Tugu dan Nusantara dalam perkembangannya ukulele yang berasal dari Hawaiilah yang lebih populer. Dan pada akhirnya dalam perjalanan apresiasi seni pengaruh komunitas Jawa lebih dominan mempengaruhi sehingga timbul ukulele tali empat dan tiga yang biasa disebut dengan cak dan cuk.

Berbicara tentang kata Keroncong itu sendiri. Komunitas di luar Tugulah yang mempopulerkan nama Keroncong. Orang yang mendengar mengatakan di kampung itu (Tugu) mereka memainkan musik berbunyi krong  krong krong. Yang lain lagi menimpali ya dia juga mendengar dan suaranya crong crong crong akhirnya mereka sepakat menyebutnya Keroncong hingga saat ini. Komunitas Tugu atau Orang Tugu sendiri menyebutnya Musica de Tugu yang artinya musik dari kampung Tugu.

Perjalanan musik Keroncong Tugu secara organisatoris dibentuk tahun 1925 dan semua keluarga / fam di Tugu terlibat di dalamnya mereka membentuk komposisi musik keroncong Tugu dengan meminjam instrumen dari pihak Belanda seperti biola, celo, bass yang dipadukan dengan ukukele, gitar melodi dan rythem serta rebana yang merupakan pengaruh dari Arab – Betawi maka terbentuklah komposisi group keroncong yang pada saat itu dinamakan Orkes Poesaka Krontjong Moresco Toegoe Anno 1661, penyebutan tahun itu sebagai tanda keberadaan Komunitas Tugu/Orang Tugu hingga kini.

Kini keluarga-keluarga/fam-fam di Tugu yang konsisten sampai saat ini menjaga dan merawat tradisi memainkan Keroncong sejak tahun 1661 adalah Fam Quiko dipimpin Guido Quiko dengan nama group Musik Keroncong Cafrinho Tugu, fam Michiels dipimpin Andre Juan Michiels dengan nama group Musik KrontjongnToegoe dan dari Keluarga Abrahams – Cornelis dipimpin Sherly Abrahams dengan nama group Keroncong Muda-mudi Cornelis.

Semangat yang ada pada fam-fam Tugu dalam melestarikan sejarah, seni dan budaya Tugu melalui Musik Keroncong Tugu patut diberi apresiasi baik oleh Komunitas Tugu, pemerintah kota, daerah dan pusat serta masyarakat secara luas baik dunia usaha / industri melalui CSR (Coorporate Social Responbility) dan masyarakat akademis dan pecinta / penggiat seni budaya.

Dengan memberikan akses seluasnya kepada mereka untuk performance dan juga diberikan peluang komunikasi, edukasi dan informasi sehingga semakin jayalah musik Keroncong Tugu yang merupakan cikal bakal lahirnya Keroncong Nusantara. Semoga usaha menssuport musik Keroncong menjadi suatu gerakan yang gencar dilakukan seluas-luasnya yang pada akhirnya semakin menumbuhkembangkan seni budaya Indonesia yang turut memajukan Pariwisata Indonesia. (Johan Sopaheluwakan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here