Surabaya – Zonadinamika.com. Demi visi dan misi tercapai, Pengawasan dan Pelayanan Bea Dan Cukai (KPPBC) Juanda berhasil mengungkap lima kasus penyelundupan narkotika berbagai jenis. Penindakan tersebut dilakukan sejak Juni 2018 lalu.

Yakni, selama 4 bulan, pengungkapan lima kasus yang dilakukan atas kerjasama dengan Polda Jawa Timur (Jatim) dan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim itu, disita sebanyak 43.629 paket kiriman. Berikut; Antara lain, narkoba jenis Chatinone seberat 4,5 kg asal Ethiopia, 7 botol THC (tetrahydrocannabinol) atau ganja cair asal Amerika Serikat, MDMA (Methylenedioxymethamphetamine) atau ekstasi seberat 10 gram asal Belanda, ganja seberat 130 gram asal Kanada, dan 67 butir ekstasi yang juga dari Belanda.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Dan Cukai (KPPBC) Juanda, Budi Harjanto mengatakan, kiriman puluhan ribu paket narkoba tersebut berhasil diungkap karena diberlakukannya aturan baru. Aturan tersebut yakni, barang impor senilai minimal USD 75 terkena bea masuk.

Namun, saat diketahui, bahwa barang tersebut adalah narkoba, Budi mengaku pihaknya mengupayakan untuk menelusuri tujuan pengiriman barang. Penelusuran tersebut dibutuhkan untuk membuktikan ke mana dan siapa yang memesan.

“Butuh ketelatenan untuk membuktikan, jika alamat tujuan yang tertera pada paket kiriman adalah benar. Kemudian, dari situ akan mudah untuk menemukan motifnya,” kata Budi di Aula KPPBC TMP Juanda, Surabaya, Kamis (4/10).

Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit 3 Ditresnarkoba Polda Jawa Timur, AKBP Gufron AS mengatakan, pihaknya sudah menelusuri tujuan kiriman paket tersebut. Beberapa anggota harus menyamar menjadi petugas kurir PT Pos Indonesia.

Hasilnya, Sebanyak 7 orang sudah diidentifikasi dan diduga terkait dengan pengiriman tersebut. Mereka diantaranya berinisial SN, SOL, FR, wartawan Koran Memo, Achmad Alamudi dan Ridwan. Selain itu dua warga sipil yang tidak disebutkan namanya.

Dua diantaranya yakni SN dan SOL ditetapkan sebagai DPO. Sedangkan 5 sisanya, sempat berhasil diamankan dan diinterogasi. Namun, dari kelima orang tersebut tidak dilakukan penahanan dan tidak ditetapkan sebagai tersangka.

Alasannya, saat diperiksa atas kasus tersebut, kelimanya tidak terkait langsung dengan barang bukti paket narkoba impornya. Meski, saat dilakukan interogasi, mereka terbukti orang suruhannya penerima paket berinisial SOL itu.

Padahal, saat dilakukan tes urin selama interogasi yang dilakukan tak jauh dari lokasi alamat pengiriman, tiga dari lima orang itu dinyatakan positif narkoba.

“Kami bilangnya diamankan. Bukan ditangkap. Jadi, sementara kami anggap lima orang itu korban penyelahgunaan. Nanti kalau si SOL tertangkap, lima orang itu ya kami ringkus lagi,” kata Gufron.

Terduga pelaku berinisial SOL itu, dalam modusnya mengirimkan paket ke rumah bibinya. Ini diketahui, saat polisi yang menyamar jadi kurir PT Pos Indonesia, mengantar paket narkoba impor ke alamat si SOL Sabtu lalu (29/9).

Status, SOL pun langsung dinyatakan buron. Karena, sesuai SOP (standar operasional prosedur) Pos Indonesia, barang kiriman harus diterima oleh penerima yang sudah tertera. Oleh karenanya, anak buah Gufron yang menyamar, mengembalikan barangnya ke kantor Pos Indonesia.

“Kami sudah titip pesan jika ingin mengambil barangnya, silahkan ambil di kantor pos. Nah, dari situlah mulai berdatangan kelima orang itu yang mencoba mengambil barangnya,” kata Gufron.

Dari strategi yang dibuat ‘pancingan’ tersebut, lalu datanglah FR yang ternyata mengaku sebagai adik kandungnya SOL. Polisi yang menyamar pun langsung mengamankan FR. Kemudian ada dua orang lainnya yang mencoba mengambil paketnya.

“Nah, dua orang terakhir yang kami amankan saat mencoba mengambil paket tersebut ya dua orang wartawan itu. Yang diisukan pernah hilang dan dilaporkan ke Polrestabes Surabaya itu. Padahal enggak ada yang nyulik,” ujarnya. (dms)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here