Bekasi, Zonadinamika.com
Menjelang akhir tahun, hampir semua orang tua siswa/i Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) kabupaten mekasi mengeluhkan besarnya biaya study tour yang sengaja diagendakan masing-masing sekolah dan diselenggarakan di luar daerah.

Sebagai contoh, beberapa orang tua siswa SMPN 5 tambun Selatan sangat keberatan dengan program study tour yang diadakan pihak sekolah ke kawasan Bandung, Jawa barat. Pasalnya para orang tua siswa harus merogoh kantong hingga ratusan ribu rupiah, bahkan jika dihitung semua pengeluaran dengan uang saku perjalanan anak mencapai ½ juta rupiah, keluhnya kepada awak media ini.

Ditambahkannya, pelaksanaan study tour itu juga tidak ada musyawarah orang tua siswa untuk menentukan tujuan dan besaran biaya yang akan dibutuhkan. “Kami kaget karena tiba-tiba saja ada pemberitahuan dari sekolah melalui anak bahwa setelah selesai ujian semester akan diadakan study tour ke bandung” terangnya sambil menyesalkan keberadaan komite sekolah yang tidak efektif memperjuangkan kepentingan ortu atau wali siswa.

Dikonfirmasi via saluran WatsApp kepala SMPN 5 Tambun selatan, Rija Sudrajat mengakui benar adanya kegiatan study tour itu. Adapun jumlah siswa (gabungan) SMPN 5 dan SMPN 15 Tambun selatan sebanyak 1600 siswa dengan biaya yang dipungut sebesar Rp. 395.000 / siswa.

Sementara itu ketua umum Jaringan Anti Korupsi Seluruh Indonesia (JAKSI) Ojak P.Sinaga mengatakan sangat prihatin melihat fenomena program sekolah yang cenderung mencari “kenikmatan” diatas penderitaan orang tua/wali siswa. Mereka seharusnya (kepsek bersama guru-red) lebih mengutamakan mutu pendidikan berkarakter positif kepada anak didik. Bukan justru menanamkan pola pemborosan kepada anak dengan menghambur-hamburkan uang jerih payah orang tua pada hal-hal yang tidak ada relefansinya pada prestasi akademik peserta didik, tegasnya.

Lebih lanjut, pihaknya juga akan melayangkan surat resmi kepada Dinas Pendidikan kabupaten Bekasi dan pihak sekolah untuk mempertanyakan payung hukum kegiatan study tour ini. Karena dilihat dari urgensi dan besarnya anggaran yang dibebankan kepada orang tua siswa, sangat tidak masuk akal dan terindikasi modus melancarkan pungutan liar (PUNGLI), tegasnya. (fik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here