Karawang-Zonadinamika.com.Hampir setiap tahunya penyerapan Dana Alokasi Khusus di Dinas pertanian Karawang Jawa Barat  berbau dugaan penyimpangan, berawal ganasnya dugaan dalam anggaran DAK yang  paling menyolok adalah pembangunan rumah pompa yang menghabiskan puluhan miliar rupiah dan hingga saat ini banyak rumah pompa tersebut dalam kondisi mangkrak dan ada 100% rumah pompa tidak bisa di fungsikan.

Saat ini atau tahun anggaran 2018 Dinas pertanian di bawa komando Ir.H.Hanafi ini mulai menuai banyak dugaan penyimpangan atau rawan terjadinya Mark Up dalam Proyek pembangunan sumber-sumber air yang disebut pembangunan dam parit.

Aroma dugaan korupsi itu mulai terkuak, dan proyek dam parit ini juga disinyalir sangat berpotensi merugikan keuangan negara, diduga oknum pejabat pertanian dalam proyek ini, bagi-bagi kue melalui program pembangunan sumber-sumber air, patut diduga melalui tangan-tangan para kelompok tani, oknum pejabar dinas pertanian berupaya menumpuk harta kekayaan secara terselubung.

Hasil investigasi media ini pada sejumlah lokasi pembangunan dam parit menemukan sejumlah kejanggalan dilapangan, baik dalam besaran anggaran yang diduga keras tidak sesuai fisik dilapangan, juga keras dugaan adanya keterlibatan pihak ketiga dalam pelaksanaan proyek yang mengatasnamakan kelompok tani tersebut, juga membuatan pintu yang di borongkan pada seseorang oknum pejabat dinas pertanian.

Bagi Pimilih Dapil 6: Karawang Timur,Ciampel, Klari,Majalaya,Purwasari

Adapun lokasi yang di pantau wartawan media ini diantaranya proyek DAM Parit yang berlokasi di Desa Solokan Solokan Pakisjaya yang terkesan di kerjakan asal-asalan dan membuat sejumlah petani kecewa.

Kelompok Tani (Poktan) di Desa Teluk Ambulu penuh dengan “Misteri”, lebih konyol lagi Poktan tidak mengetahui tentang kelengkapan Administrasi dalam Proyek Damparit, seperti besar anggaran,Tim perencana dan Tim Pelaksana maupun Tim Pengawas tidak mengetahuinya.

Darwis sebagai Ketua Poktan ketika ditemui di rumahnya (08/11/18) menerangkan, bahwa yang mengerjakan Damparit adalah orang Cikeruh (Naabih). Dia  cuma nama doang, tentang jumlah dananya gelap (red-tidak tahu) setiap mau ngambil uang saya cuma tinggal tanda tangan doang setelah itu uangnya dikasihkan ke Naabih

“Karena saya repot saya kasihkan kerjaan Damparit ke Naabih dan disetujui oleh PPL (Enjas) setelah pekerjaan Damparit selesai saya baru melihatnya, saya dikasih oleh Naabih katanya untuk ganti ongkos totalnya Rp. 1.200.000 untuk pengurus Poktan,” ujarnya.

Ketika Darwis ditanya siapa ketua tim pelaksana, tim perencana dan tim pengawas semuanya tidak tahu, yang diketahuinya hanya Naabih sebagai mengerjakan Damparit, semua berkas ada ditangan PPL.

Ketua Poktan Srijaya yang bernama Naabih mengatakan , mulai dikerjakan tidak di catet, selesai ada sekitar 3 minggu yang lalu, Tim Pelaksana adalah Pa Enjas (PPL).

“Diibaratkan saya ini cuman sebagai tenaga kerja, tim perencana saya ga tahu, kalau tim pengawas adalah PPL, anggaran dananya hampir Rp.40.000.000. tingginya hampir 130 – 140 cm, panjangnya 30 m kiri 30 meter kanan, Dana Pa Darwis juga sama sekitar Rp. 40.000.000. tentang RUK (Rencana Usulan Kegiatan) ga tahu saya belum paham,” tegas Naabih, Kamis (8/11/1.

Pekerjaan Damparit di dusun Langseb, Nana yang beralamat di dusun Langseb 1 Rt.001 Rw.001 Desa Kertaraharja, Kecamatan Pedes sebagai ketua Kelompok Tani (Poktan) saat ditemui di rumahnya merasa kaget ketika ditanya mendapakan proyek Damparit.

“Yang melaksanakan bukan saya, karena saya adalah Poktan Sugih Mukti, yang melaksanakan Nana Desa Jatimulya, Didesa ini ada dua poktan guntai,  lahan sawahnya di Langseb pemiliknya warga desa Lain, salah satunya Poktan guntai adalah Poktan Subur yang ketuanya Nana warga Desa Jatimulya,” Ucap Nana (Sabtu,17/11/18).

Muslih sebagai Penyuluh Pertanian Swadaya di desa Kertaraharja mengatakan (17/11/18).”Kerjaannya di Cilegok pelaksanaannya di Dusun 1.

“Kalau menurut saya tidak salah bukan Mitra Cai dikerjakan oleh Poktan Subur, tidak tahu kalau sama UPTD dinamakan Mitra Cai, yang pasti pelaksanaannya oleh Poktan Subur dengan Ketuanya Nana Dusun Cilegok orang Guntai, kelompok guntai juga ada di Kosambi batu,” katanya.

DAM Parit dusun karanganyar desa sengarjaya, dengan besaran anggaran yang cukup pantastis namun tidak sepadan dengan pisik dilapangan, dan proyek DAM Parit Tersebut hanya memasang satu pintu, UPTD Pertanian setempat bernama Joli ketika di konfirmasi wartawan beberapa waktu lalu mengakui dam parit tersebut hanya memasang satu pintu dengan alasan karena debit air kecil, seraya menyarankan agar ketemu kelompok tani agar mendapat keterangan yang lebih jelas termasuk berapa anggaran, saranya diujung telepon. data yang dimiliki media ini, besaran anggaran mencapai Rp.62 juta lebih.

DAM Parit di desa darawolong dengan besaran anggaran Rp.80 jutaan lebih, diketahui  Harapan Makmur kelompok tani dibawah komando Sudono warga dusun Rawa Wiru  Rt 09/03 Desa Darwolong anggaran 80.311.000. Dalam pelaksanaan kuatnya indikasi terjadinya praktek kotor, informasi yang di dapat, proyek Dam parit ini melibatkan pihak ketiga atau kontraktor dan diduga kontraktor tersebut atas utusan UPTD Pertanian setempat, ironisnya, ketika di survei sesuai alamat dokumen, tidak ditemukan hasil pekerjaan, konon kabarnya adanya pemindahan lokasi pekerjaan ke desa Cengkong.

“Di desa cengkong di kp karangmaja masalah dipindahin kan kita udah nego ama orang dinas katanya sih boleh asal satu kecamatan” jawab Sudono pada wartawan via pesan whatsApp

Ahmad ketua kelompok yang mendapatkan anggaran proyek dam parit Rp.51.314.000, poktan Kali jeruk 1 Desa Darawolong, mengaku sempat di mintain oleh oknum kontraktor untuk mengerajakan namun dirinya menolak. Mengakui bahwa dalam pengerjaan proyek Dam Parit itu pihaknya membelanjakan dua buah pintu air dengan total anggaran Rp.9Jutaan dan pemasangan batu dengan total 14 meter dengan tinggi pasangan 60 Cm.

Hasil pengamatan wartawan dilapangan terjadinya dugaan praktek merugikan keuangan negara dalam royek tersebut adalah dugaan mark up anggaran, volume pekerjaan tidak sebanding dengan besaran anggaran, untuk menyiasati kelompok tadi melakukan pengecatan pada parit yang lama dengan warna cat biru.

Ahmad pun mengaku bahwa dirinya yang menerima anggaran yang dikirim via rekening, memberikan uang pada oknum UPTD tanpa merinci besaran uang yang diberikan. Apa kelompok tani memberikan sebagian dari anggaran tersebut pada pihak UPTD? Ahmad menjawab, ya saya memberikan ke UPTD, tapi kurang baik klo saya sebutkan besarannaya”. Jawabnya polos.

Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Karawang Jawa Barat, Ir.Usmania ketika hendak dikonfirmasi via telepon selulernya tidak menjawab, pesan singkat yang di kirimkan tetap tidak memberikan jawaban.

.(tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here