Facebookan Menodai Alam Bawah Tanah

0
33

Oleh Simion Kotouki ***

Opini; Disini telah menjadi virus dan kemudian melekat dalam kehidupan kita sehari – hari karena facebookan kita semakin menonjol dibanding meluangkan waktu untuk melakukan aktifitas lain selain facebookan. Ketika dalam beberapa waktu tidak lagi online atau facebookan, maka akan gelisah dan hilang semangat untuk sentuh hanphone dan facebookan. Ini penyakit yang dianut untuk kita yang mengunakan akun facebook (mestinya kita hindari).

Facebookan juga membuat kita kecanduan sehingga saat sedang belajar pun konsentrasi kita akan selalu dipengaruhi dengan Facebookan sehingga dampak buruknya seperti sebentar belajar dan sebentar lagi facebookan atau inboxan, Mengomentari foto dan status yang di Upload orang. (Seperti ini membuat kita kesenangan sesat).

Sangat besar pengaruhnya terhadap konsentrasi pada aktifitas dan juga semangat untuk melakukan aktifitas lain karena diresapi oleh senangnya facebookan sehingga seakan facebookan adalah sumber kebahagiaan dan kesenangan bagi penggemar facebookan.

Pembentukan karakter seorang Pelajar dan Mahasiswa yang sesungguhnya akan terus terbentuk karena otak akan dikuasai oleh kesenangan facebookan yang dimana membuat kita darah daging akan facebookan itu sendiri. (sebetulnya sama sekali kita tidak mendapatkan hasil yang memuaskan dari facebookan).

Mau makan facebookan, Mau jalan Facebookan, Mau Ibadah Facebookan, mau ke kampus dan di kampus Facebookan, mau santai Facebookan, ada masalah Facebookan. Lalu, Kapan kita mau luangkan waktu untuk melakukan aktifitas lain selain facebookan? (Ini adalah sebuah referensi buat kita sekalian).

Semua yang diutarakan diatas, pentingnya untuk kita mengatur waktu sehingga semua dapat berjalan dan dapat kita kembangkan Entah talenta, Jurusan yang kita tekuni di kampus/ Sekolah, dan/atau apa saja yang kita ingin kembangkan. (non formal = Pendidikan luar sekolah/ kampus)

Akan lebih baik lagi kalau kita mengatur manajemen waktu agar tak tertinggal untuk aktivitas yang lain. Soh, kini keputusan ada pada diri masing – masing kita.

(Penulis adalah Simion Kotouki Mahasiswa Aktif di kampus Universitas Wahid Hasyim Semarang)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY