Sisi Lain Mahar Ritual

0
74

Oleh :Abah Rahman***

Mempraktekkan kebaikan merupakan kewajiban. Dan, membantu orang lain yang membutuhkan adalah keharusan. Demikian prinsip Abah Rahman. Tapi tidak untuk pengingkar uang mahar dalam tiap ritualnya. Why?

Selain bagian dari prosesi pernikahan, mahar juga lama dikenal dalam dunia kesaktian. Di sini, mahar diartikan sebagai pengganti kata biaya atau uang atas kompensasi terhadap proses pengajaran ilmu ataupun kesaktian dari seorang guru kepada orang lain. “Ya begitulah, setiap pengerjaan (hajat tiap orang) memang memerlukan biaya. Ya untuk sajen, seperti beli bunga, minyak, juga biaya transportasi ke tempat keramat,” jelas Abah Rahman.

Guna menguatkan daya batinnya, spritualis ini diketahui selalu mendatangi tempat-tempat keramat, di mana pun . Nah, di setiap tempat wingit itu, selain mengendapkan ma’rifatnya, ia wajib memberi sesaji. Juga nyala kemenyan. Itu tentu agar para leluhur sakti ‘penunggu’ lokasi itu membantu minta kepada Tuhan agar mewujudkan keinginan-keinginan banyak orang yang selama ini acap disandarkan lewat doa-doa darinya.

“Asal menyantap bebauan harum, banyak leluhur akan merasa nyaman. Mereka juga menyadari bahwa alam halus berbeda dengan alam manusia. Karena itu mereka banyak berada di tempat yang sepi dan rindang atau di bawah pohon besar,” Abah Rahman sedikit menjelaskan soal ritualnya di tempat-tempat keramat (lengkapnya baca : Tirakat Abah Rahman). “Ikan sepat ikan gabus ikan lele, lebih cepat lebih bagus dan tak bertele. Jadi, dalam setiap praktik, saya tidak menerima mahar di
belakang atau setelah hajat yang diminta didapat atau terjadi,” jelas Abah Rahman.

Selanjutnya ia bahkan terdengar ceplas-ceplos. “Jadi kalau Anda berfikir (memberi) mahar setelah (hajat) berhasil, tidak usah hubungi Abah Rahman. Yang menghubungi saya harus orang yang mempunyai keinginan kuat, ikhlas, jujur, dan yakin dengan usaha atau tirakat sukses Abah Rahman. Jangan bawel dengan segala petunjuk dari saya.” Abah Rahman lalu sedikit berkisah soal pentingnya mahar dalam praktik-praktik kegaiban.

Ini kisah nyata Yudi Suhanta (35), warga Jl Sakti Lubis, Gg Pegawai, Medan. Yudi adalah satu dari banyak contoh sosok pengingkar mahar ritual gaib. Ceritanya, lewat bantuan seorang cenayang, sosok pemborong ini berhasil ‘mengangkat’ Mustika Merah Delima dari Sungai Deli. Terjadi di malam Jumat Kliwon November 2016, peristiwa ritual itu persisnya digelar di bawah jembatan Avros, Medan. “Lewat sajen kelapa muda dan keyakinanku yang kuat, batu Mustika Merah Delima malam itu berhasil kami angkat dari ‘penunggu’ Sungai Deli,” singkat Yudi saat bercerita pada temannya, Faisal Ahmad, baru-baru ini. “Ya, setelah kami tunjukkan ke banyak orang, itu memang Mustika Delima, ” amin Rudin, sepupu Yudi.

Tapi, sesaat sebelum batu bertuah, mahal, dan dicari banyak orang itu ‘terangkat’ dari permukaan sungai, soal mahar, Yudi berjanji akan membayar ‘jasa’ ritual itu sepekan usai batu ‘dihuni’ sosok gaib sakti itu dimilikinya. Celakanya, janjinya diamini sang dukun. Begitulah. Gara-gara mahar belum terlunaskan, batu dikenal sakti sebagai sarana perlindungan, keberuntungan, serta kerezekian dan melegenda sejak ribuan tahun silam itu selanjutnya mendadak raib dari tangan ayah 3 anak itu.

“Awalnya aku terjatuh dari motorku. Tapi seiring itu, Mustika Delima itu juga hilang dari jariku. Anehnya, kawasanku jatuh itu sudah kami sisir ‘tuk mencari, tapi batu bertuah itu tetap tak kami temukan,” aku Yudi. Nadanya terdengar lemas. Ternyata, pun mahar belum ditunaikan, batu legenda itu telah diikatnya sebagai mata cincin. “Itu semua gara-gara uang mahar ‘tak seberapa’ yang belum juga kubayar setelah hajatku memiliki batu Mustika Merah Delima kudapat. Tapi sejak pengalaman tak terlupa itu, aku baru sadar pentingnya arti mahar dalam ritual-ritual gaib,” tandas Yudi. Peristiwa itu membuatnya menyesal tak terkira. (Arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here