“Pencegahan” Solusi Tangkal Kejahatan Mental.

0
244

Oleh. Ahmad Fadhly.

Kini, rasa iba dan rasa takut berbuat melanggar konstitusi terkesan sudah tidak ada. Seperti, Korupsi terjadi disetiap sudut pemerintahan, pembunuhan dengan cara sadis juga terlihat terjadi setiap menit, perlakuan amoral terhadap perempuan dibawah umur dengan akhir kematian korban. Parahnya, pelaku kekerasan seks dilakukan oleh remaja, dengan cara beramai–ramai.

Fenomena tersebut terkesan tidak terkendali. Semakin hari, semua perlakuan kejahatan berlandaskan moral itu pelakunya kian menjadi. Selain itu, Korupsi, Narkoba, pembunuhan sadis, dan pemerkosaan adis dibawah umur kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Tidak ada terlihat sistem yang membuat pelaku takut melakukan perbuatan tersebut.

Gerakan revolusi mental yang didengungkan kepala Pemerintahan saat ini terkesan menjadi bencana buruk bagi bangsa. Moral kejahatan semakin kasar, rasa takut melakukan kejahatan sudah tidak ada, usia pelaku kejahatan sudah merata.

Menyikapi fenomena tersebut, pemerintah tidak hanya memperbaiki sitem hukum. Hukuman berat tidak akan menyelesaikan permasalahan mental kejahatan. Seperti, kejahatan seksual dibawah umur, pemerintah berencana akan melakukan revisi UU kejahatan seksual dengan point memperberat hukuman bagi pelakunya.

Hal itu tidak akan menyurutkan mental pelaku untuk melakukan kejahatan seksual. Soalnya, sistem penegakkan hukum di negeri ini masih memihak pelaku yang memiliki materi lebih. Misalnya, terkabar pengusaha asal Jawa timur yang melakukan kejahatan seks terhadap 58 anak perempuan dibawah umur hukumannya dinilai publik tidak sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya.

Selain memperbaiki mental penegak hukum negeri ini, Pemerintah juga selayaknya mencarikan solusi bagaimana melakukan pencegahan perlakuan kejahatan. Seperti membatasi penggunaan pasilitas untuk melakukan kejahatan. Contohnya, kejahatan seks yang dilakukan remaja, pemerintah membatasi atau membuat aturan penggunaan Handphone bagi pelajar. Dikarenakan penggunaan handphond dinilai salah satu sara modern pemicu kenakalan seks remaja.

Sebaliknya, pencegahan kejahatan tidaklah mutlak menjadi tanggjng jawab pemerintah semata. Orang tua dan keluarga juga bertanggung jawab terhadap perlakuan kecahatan. Setidaknya, keluarga saling mengingatkan supaya tidak melakukan kejahatan yang merugikan dan membuat susah, serta resah masyarakat lainnya.

Memang, berkaitan dengan memperbaiki mental bangsa sangat dibutuhkan kesamaan pandangan Pemerintah dengan rakyatnya. Terkait dengan menyatukan pandangan tersebut, pemerintah pusat yang dipimpin Presiden Republik Indonesia Jokowi sepatutnya mampu menggalang jargonnya “Revolusi Mental” sampai ketingkat pemerintah yang lebih bawah yakni pemerintah desa.

Penggalangan jargon itu dilakukan dengan cara berkampanye dengan menunjukkan mental yang baik dari aparatur pemerintah termasuk aparatur penegak hukum di akar rumput. Diyakini, bila aparatur pemerintah di semua jenjang mampu menunjukkan mental yang baik kepada rakyat, pelaku kejahatan yang menakutkan dan meresahkan masyarakat akan jera serta takut melakukan perbuatan kejahatan.●●●

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here