Pilkada Kota Gunungsitoli Merupakan Lagak Ayam Kerakyatan

0
389

Sebagai rakyat yang ber-Ketuhan-an, selayaknya masyarakat patutbersyukur sebab berdasarkan UU No. 47 tahun 2008 Kota Gunungsitoli dijadikan satu daerah otonomi baru hasil Pemekaran Kabupaten Nias. Sejak saat itu, masyarakat Kota Gunungsitoli secara khusus menentukan sendiri nasib rakyat dan arah pembangunannya.

Tepatnya 09 Desember 2015 mendatang adalah lagak terbesar yang kedua kalinya di Kota Gunungsitoli dalam Kompetisi PILKADA setelah mekar sejak Tahun 2008 yang silam. Masih segar dalam ingatan kita, pesta demokrasi Tahun 2011 yang lalu ketika Para Kandidat Over Action merebut hati rakyat, agar dipercaya memimpin Kota Gunungsitoli dengan tujuan mensejahterakan rakyat.

Seribu janji yang telah terucap, sumpah serapah dan keyakinan telah disampaikan yang kesemuanya itu akan dilaksanakan selama lima tahun lamanya. Rupanya, waktu yang lima tahun itu telah menepi dan janjipun teringkari oleh mereka yang memimpin. Penyakit lupa menyerang mereka hingga sumpah setia tak bisa diingat lagi.

Kondisi ini akan menjadi sebuah bahan refleksi berharga untuk semua pihak, bahwa kegagalan yang sudah terjadi bukan hanya kelemahan satu orang saja, tentu ada hubungannya dengan pihak – pihakterkait. Suasana lima tahun yang silam akan kembali kita hadapi di tahun ini yaitu PILKADA.

PILKADA tahun ini menyuguhkan satu kompetisi sengit yang saya ilustrasikan dengan nama “PILKADA Kota Gunungsitoli merupakan Lagak Ayam Kerakyatan”. Betapa tidak, para kandidat yang sedang bertarung ini adalah tokoh yang punya cerita dan background menggelisahkan.

Situasi ini akan menghadapkan rakyat dengan pilihan buruk yang pada akhirnya “Memilih yang buruk diantara yang terburuk”, sebab para petarung ini berjuang bukan berarti mulus tanpa masalah. Setiap orang mengambil tekad bulat menjagokan kandidat pilihannya, tanpa menelisik lebih jauh siapa dan bagaimana Paslon tersebut tak ubahnya seperti sabuk ayam saja (Manugu Zabölö).

Namun, sebagian lagi memilih untuk diam sebab ia tahu bahwa diantara paslon yang tampil sama sekali tidak menunjukkan adanya gejala – gejala yang memungkinkan untuk membawa perubahan dan langkah restorasi. Tentu saja diam bukan jawaban terhadap kegelisahan rakyat saat ini, bahwa PILKADA sesungguhnya diharapkan akan menjadi benih perubahan ril yang tidak hanya sebatas wacana belaka.

Untuk itu, Relawan Generasi Tangguh (REGENTA) Kota Gunungsitoli mencoba mengambil bagian untuk memberikan politik education kepada rakyat agar kita betul-betul mengenal siapa dan bagaimana Paslon pilihan kita tanpa mempengaruhi dan melakukan mobilisasi massa, yang pada akhirnya PILKADA Kota Gunungsitoli tidak terkesan seperti lagak ayam. REGENTA lahir dari kelompok akademisi yang memiliki cita-cita revolusi untuk Kota Gunungsitoli.

Memberi warna baru pada demokrasi kita dengan mengembalikan nilai sosiodemokrasi yang telah lama hilang di panggung demokrasi Indonesia. Langkahnya adalah menelaah setiap Visi, misi dan Tred Record Paslon Tanpa mengesampingkan cara berpikir dan kepribadian mereka.

Selanjutnya memberikan masukkan kepada Paslon mengelola sektor-sektor strategis yang dipergunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat sesuai dengan amanat UUD 1945. Untuk itu, mari memberi hati dan pikiran untuk menghadapi demokrasi ini, agar penyesalan tidak datang terlambat tetapi datang pada waktu yang tepat. ***

Oleh :Krisman Telaumbanua (Ketua Umum REGENTA – Kota Gunungsitoli)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here