Suku “UMA LOK” Gelar Ritual Adat Puluhan Tahun Untuk Sebarluaskan Nama Besar Suku Lok

0
426

Atambua – Zonadinamika.com, Upacara adat Rumah Suku Lok (Uma Lok) yang berlangsung selama 5 hari – 5 malam merupakan suatu upacara penghormatan terhadap leluhur suku lok juga sebagai penentu masa depan seluruh keluarga suku lok demi kelangsungan hidup mereka dalam hal rejeki dan kehidupan yang lebih baik, selain itu juga untuk menyebarluaskan Nama Besar Suku Uma Lok kepada seluruh masyarakat Kabupaten Belu.

Rumah Adat Suku Lok terletak di Dusun Auhun, Desa Bakus, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu Tujuan lain dari kegiatan rumah adat ini adalah tidak lain untuk mencari petunjuk hidup serta rejeki keluarga atau mencari jalan hidup masing-masing anggota suku.

Gaspar Beti salah satu tokoh adat Suku Uma Lok mengatakan bahwa upacara ini baru dilakukan 20 tahun sekali sejak tahun 1995 lalu kegiatan ini ingin memberi pesan kepada pemerintah daerah bahwa upacara adat tidak menjadi beban buat masyarakat dengan biaya yang besar yang selama ini menjadi pembicaraan di masyarakat, tetapi upacara adat merupakan tradisi leluhur turun-temurun.

“Kami ingin memberi arti kepada pemerintah bahwa upacara adat tidak membebani masyarakat, karena upacara ini merupakan tradisi kami sejak dahulu sebelum negara ini berdiri, hal ini kami sebut dengan haksudik maksudnya mengajak semua keluarga suku untuk datang membawa beban mereka masing-masing supaya bisa melihat masa depan mereka,” Jelas Gaspar.

Ketika diwawancarai satu persatu, Dalam Struktur adat Suku Lok dipimpin oleh seorang Ketua Suku Uma Lok Petrus Beas bersama Balthasar Baha adalah Penasihat Suku Lok serta Yakobus Mauk Kepala Bidang Pertanian Suku Lok. Selama upacara adat ini berlangsung selalu diiringi oleh dentuman gendang dan tarian Likurai serta Tebe yang merupakan salah satu tarian khas Kabupaten Belu.

Menurut Ketua Suku Lok Petrus Beas Ritual adat Ini memiliki Makna 3 tungku besar dalam adat uma Lok artinya adat, agama, dan pemerintah, yang harus bersatu, dalam suku lok ada 7 sila dalam suku uma lok yaitu Hanoin, Han, Hemu, Hadomi, Haklaran, Hakneter, Haktaek. Lambang Bendera berwarna merah di bubungan Rumah Suku Uma Lok artinya kemerdekaan, ikut bersama berjuang untuk kemerdekaan rakyat Belu dari segala penindasan, sedangkan gantungan perak pada bendera artinya kesucian maksudnya segala hasil usaha masyarakat atau jerih parah dan hasil keras untuk menghidupi segala kebutuhan mereka sejak dahulu hingga sekarang dan juga untuk kelangsungan kehidupan mereka selanjutnya dalam hal kawin mawin, pendidikan dan masa depan.

“Apabila barang siapa dengan sengaja mau menghalang-halangi kegiatan ini, sangsinya adalah denda adat,” Kata Ketua Suku.

Dalam rumah suku Lok terdapat Tetu Ledu adalah rumah tempat penyimpanan makanan yang dibawa oleh keluarga suku uma lok yang terpisah antara laki-laki dan perempuan dalam satu rumah (Feto Ledu dan Mane Ledu), Feto Oan atau feto sawa (perempuan) mereka dibebankan untuk membawa 2 ekor babi dengan uang Rp 500.000 serta sembako.
Sedangkan laki-laki (mane) dalam suku uma lok ada 40 orang dengan beban 2 ekor babi per orang, sapi 2 ekor untuk 2 orang, beras untuk ketua suku dan penasehatnya sebanyak satu stengah ton atau 500 kg, jumlah beras seluruhnya sebanyak 3 ton.

Menurut Gaspar Beti Ada 3 loru loro yang ada di Belu, yang pertama Dasi Manesa Lorok yang berada saat terbitnya matahari, kedua Dasi Maninu Lorok dia ada dipertengahan Bumi saat matahari berada di tengah bumi, Ketiga Dasi Manae Lorok berada di sore hari atau senja untuk melihat keluarga sebelum matahari terbenam dan sebelum gelap, menurutnya Nanaet Dubesi adalah Loro Tengah atau Dasi Maninu Lorok. (Yulianus S. Feka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here