Menuai Rezki Mangrove Di Bibir Pantai

0
240

mansur ali 1

Tuban,Zonadinamika,com Kecintaan Haji Ali Mansyur dalam merawat Mangrove selama berpuluh tahun, berhasil menginspirasi pelestarian lingkungan di kawasan pesisir Tuban, Jawa Timur. Pria yang lebih suka berkaos dan bersarung itu hingga kini masih sering berkeliling desa dengan sepeda ontel tuanya, memungut bibit mangrove untuk memagari pesisir pantai dari hantaman ombak. “Cintailah tanaman, maka dia akan bertasbih mendoakanmu,” kata Haji Ali Mansyur yang lebih sering bertelanjang kaki. Menurutnya, sepatu hanya dikenakan ketika mengajar di sekolah, profesi yang dilakoninya sejak puluhan tahun lalu.
Pengabdi lingkungan tersebut telah mengabdikan hidupnya demi penyelamatan pesisir. Usahanya bermula pada 1970, ketika pantai yang berbatasan dengan desanya mulai terkikis abrasi. Sedikit demi sedikit air laut mendekat. Sampai akhirnya pada 1974, rob besar menghantam desanya. Jarak rumah yang tadinya 300 meter ke pantai, hanya tinggal beberapa meter saja. Kejadian itulah yang mengggugah Ali Mansyur menapaktilasi jejak banjir dengan menanami mangrove.
“Banyak yang menyebut saya gila, tak ada kerjaan”, ujar lelaki yang lebih sering wira-wiri memakai motor itu. Ali Mansyur pun mulai berkeliling memungut bibit mangrove dari desa-desa lain. Bibit itu kemudian ditanam di bibir Pantai Jenu, yang kata orang susah untuk ditumbuhi mangrove. Selama bertahun-tahun, Ali terus merawat bayi-bayi mangrovenya dengan tekun dan telaten.
Alam pun membuka jalan mewujudkan tekad Ali Mansyur memerangi abrasi di desanya. Satu persatu mangrove yang ditanam mulai tumbuh rindang di tangan dingin Ali Mansyur.Tetangganya baru mulai tergerak 20 tahun kemudian, setelah melihat keberhasilan Mansyur merindangkan pantai. Ada sekitar 18 orang yang aktif melakukan penanaman. Mereka bekerja tanpa pamrih. Tidak ada yang melirik untuk mengulurkan bantuan termasuk pemerintah
Pada 1997, usaha Ali Mansyur mulai mendapat perhatian dengan mendapatkan pelatihan. Untuk keperluan administrasi, Ali Mansyur dan kawan-kawan membentuk kelompok tani `Wana Bahari.` Setelah pelatihan, mereka diberi order pengadaan 50 ribu bibit. Ada 12 anggota kelompok yang terlibat dalam pengerjaan tersebut dengan gaji Rp6 ribu per hari. Mereka sepakat untuk memakai uang gaji sebagai modal kelompok, untuk membangun sekretariat atau gubuk nyaman tempat pertemuan yang dipertahankan sampai sekarang.
Kegiatan pemberdayaan mangrove semakin berkembang melalui `Wana Bahari`, hingga lahir yayasan `Mangrove Center`. Lembaga itulah yang sekarang secara resmi mengelola `Mangrove Center Tuban` dengan luas mencapai 54 hektar, 32 hektarnya merupakan milik Mansyur.Ali Mansyur dengan Mangrove Center, tak ubahnya menjadi penjaga lingkungan Tuban. Karena itu, PT Pertamina melaui anak perusahaannya Pertamina EP. Khususnya di wilayah Aset 4 Field Cepu, bekerjasama dengan Mangrove Center Tuban, menanam 15 ribu mangrove dan 5 ribu cemara laut. Kerjasama tersebut menjadi wujud kepedulian Pertamina terhadap pelestarian lingkungan pesisir pantai Tuban dan mendukung pelestarian yang dilakukan oleh pejuang lingkungan hidup seperti Ali Mansyur.
Pelan-pelan Ali Mansyur yang menyandang sarjana Tarbiyah tersebut berhasil mengubah desanya yang tadinya miskin, menjadi di atas desa lain. Baik ekonomi maupun sumber daya manusia. Mangrove Center membuka lapangan kerja baru kepada warga desa disitu.
Ada sekitar 59 pekerja yang digaji diatas UMR. Warga juga bisa berjualan, mencukupi kebutuhan pengunjung yang datang untuk berkemah. Kalau sedang musim liburan, tempat tersebut disesaki ribuan orang. Mereka tak dikutip bayaran, hanya mengganti listrik yang nilainya ala kadarnya.
Mangrove Center juga membuka tempat pelatihan budidaya Mangrove dan cemara laut. Bahkan, lembaga tersebut kini beranak-pinak di berbagai tempat. Bagi Ali Mansyur, mangrove adalah pembuka rezeki. “Saya bersyukur, setelah menanam itu rezeki selalu ada,” ujar Mansyur. Autodidak sejati tersebut sangat mempercayai kearifan alam. Ali Mansyur terus merangkai mimpi-mimpinya untuk menjadikan Mangrove Center Tuban sebagai tempat belajar limgkungan dan kehutanan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Saya nanti akan bangun menara untuk melihat burung. Bisa motret dari situ nanti,” kata Mansyur.

Sekitar 15 hektar dari seluruh lahan Mangrove Center diajangkan untuk keanekaragaman hayati. Burung laut, seperti camar dan burung sawah, belekok, menjadikan itu sebagai tempat tinggalnya. Jika hari berganti petang, rombongan burung satu persatu hinggap di pucuk pohon saat senja, hamparan putih yang bertengger di puncak berkilatan.Di tengah usianya yang terus merembet Ali Mansyur tak ingin berhenti. Dia terus berlari, menggenapkaasanya, untuk terus berguna bagi orang lain. Seperti yang selalu diingatkan guru ngajinya saat kecil dulu, “Sebaik-baiknya manusia, adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” pungkas peraih Kalpataru tahun 2012 tersebut. (Metro/Adn)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY