Handayani: Kematian Bayi 9 bulan Akibat Keterlambatan Ortu Ambilan Keputusan

0
35

LAMPUNG UTARA-Zonadinamika.com.Pasangan suami istri, ponadi 39 tahun dan Rohayati (38 th), warga kebon 4, kelurahan Tanjung Seneng Kecamatan kotabumi selatan, kabupaten Lampung Utara harus merelakan kepergian buah hatinya pada pekan lalu. Anak ke lima dari lima bersaudara itu meninggal dunia diduga karena penyakit diare.

Menurutnya Rohayati anaknya tersebut awalnya mengalami panas yang cukup tinggi. Sehingga langsung di bawah ke salah satu klinik terdekat, namun keadaannya tak kunjung membaik. Akhirnya di bawalah sang jabang bayi ke bidan di desa setempat, sesampainya disana disarankan untuk di bawah ke RSU Handayani.

“Sesampainya di Handayani itu, petugas langsung menangani pasien tersebut. Akan tetapi keadaanya semakin memburuk, saat akan di pasangkan impus selang berapa menit naas nyawa Anggi (9 bulan) tak tertolong lagi,”kata Rohayati dengan nada sedih.

Terkait masalah yang dialami oleh pasangan suami istri, Ponadi dan Rohayati, Kepala Kesehatan Lampura, Maya Metissa mengatakan pihaknya telah melakukan kordinasi langsung pada bersangkutan, adanya kasus kematian bayi umur 9 bulan itu. Hal tersebut diyakini adanya keterlambatan pengambilan keputusan dari orang tua hingga menyebabkan sang jabang bayi harus menderita dehidrasi berat.

“Awalnya anak tersebut keadaan normal, namun ia telah melalui perjalanan panjang bersama orang tuanya ke Ranau, Lambar. Baru keesokan harinya, Selasa (5/9), dibawa ke bidan yang berada tepat didepan kediamannya. Sehari kemudian, Rabu (6/9), dirujuk ke dokter Yudi. Dari sana, baru dirujuk kerumah sakit, dan sang bayi tidak tertolong lagi setelah dilakukan berbagai upaya pada hari itu,”kata dia saat ditemui diruangannya.

Menurut Maya, bila orang tua sang bayi dapat mengambil keputusan cepat hal itu di mungkinkan sedikit akan tejadi. Seharusnya, orang tuanya berhenti sejenak saat dikendaraan bus menuju kediamannya, untuk sekedar memeriksakan anaknya. Namun tidak dilakukan dengan berbagai pertimbangan.

“Kebetulan orang tuanya pendidikannya kurang memadai, sehingga timbul keterlambatan mengambil keputusan tindakan medis. Dirumah sakit itu juga telah dilakukan penanganan, tapi belum sempat dirawat, Sang jabang bayi telah berpulang. Mungkin ini akan jadi pelajaran buat kita,”kata dia.

Pihaknya menghimbau kepada masyarakat untuk cepat dalam memberikan penanganan kepada para orang tua untuk lebih memperhatikan putra-putrinya. Dengan mengetahui tahapan dari perkembangan penyakit diare, agar tidak terlambat dalam   memberikan tindakan yang tepat. Juga tidak mudah percaya terhadap cerita-cerita lama yang dianggap benar oleh masyarakat, padahal kebenarannya belum dapat dibuktikan secara medis.

“Jadi fenoma yang ada dimasyarakat, para orang tua tidak terkadang sulit memutuskan anaknya dirujuk. Mengingat nasehat dari kerabat maupun teman, bahwa anak diare disebabkan karena mau tumbuh besar. Atau pergantian bulan, padahal keadaannya telah berubah dari sebelumnya,”pungkasnya. (andri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here