Suster Sisilia; Anak Harus Dididik dengan baik dari Keluarga, Sekolah Juga Harus Merubah Perilaku Anak

0
332

ATAMBUA, NTT-Zonadinamika.com, Kepala Forum Peduli Perempuan dan Anak (FPPA) ketika memberi pelatihan TOT (Training Of Trainer) terhadap calon pendamping korban kekerasan terhadap perempuan dan anak, mengatakan bahwa anak harus dididik dengan baik di rumah maupun Sekolah.

Pelatihan ini berlangsung di Hotel Permata oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Kabupaten Belu, juga bertujuan menambah pengetahuan terhadap pendampingan korban kekerasan seksual.

Menyikapi masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak Peran FPPA Belu yakni mendampingi korban kekerasan dan juga ada konseling anak, konseling keluarga, konseling pribadi, konseling kelompok entah itu melalui proses hukum lewat depersi atau melalui polisi, jaksa dan hakim,” Kata Suster Sesilia, SSpS saat wawancara bersama zonadinamika.com, Kamis 26/5/2016.

Terkait pelatihan ini menurut Suster bahwa dampaknya ialah semakin banyak orang yang dilatih maka akan lebih baik,
Kasus yang pernah saya tangani setiap tahun kira-kira ada 50 kasus, dan sekarang ada yang paling banyak 132 kasus setiap tahun dari Belu, TTU, TTS, Kupang dan Malaka yang melapor kepada kita.

Seringkali dalam dunia pendidikan seriing adanya ego sektoral dan kesenjangan antara anak orang kaya dan miskin yang sering dibeda-bedakan dan kekerasan sering terjadi terhadap anak dari orangtua kurang mampu, juga sering kali anak tersebut dikeluarkan dari sekolah akibat perbuatannya, Menurut sesilia bahwa tindakan mengeluarkan anak dari sekolah adalah tidak baik, karena anak itu disekolahkan untuk dididik, jadi bagaimana mendidik yang nakal menjadi baik.

“Dirumah juga orangtua harus menanamkan secara dini, nilai moral, disiplin, ketaatan kepatuhan kepada orangtua, itu harus dididik kepada guru dibiasakan dirumah,” Jelas Ulu.

Selain itu, Kalau tidak dibiasakan dirumah dengan hal yang baik tapi hanya dengan kekerasan saja, maka disekolah murid masih menunggu dipukul dulu baru dia bergerak. ini memaksa guru untuk memukul kalau kita di rumah mendidik dengan kekerasan itu, berarti kita paksa guru juga didik dengan kekerasan.

Advokasi pemulihan terhadap korban kekerasan dalam rentang waktu hingga sekarang, yaitu kami pendampingan melalui konsultasi, melalui konseling, informasi tentang hak-hak mereka, informasi tentang pasal-pasal yang mengena kepada mereka, kira-kira lama hukumannya berapa, lalu konseling dengan mendampingi kasus kekerasan anak melalui proses hukum dipolisi, rumah sakit, sidang di pengadilan, dan sampai dirumah juga kami dampingi, lalu beri pelatihan lagi pemberdayaan, kalau anaknya masih kecil orangtua yang ikut pelatihan pemberdayaan lalu selesai dikasih modal usaha kecil, modal ini dikembangkan lalu mereka boleh masuk kopwan (koperasi wanita), dengan adanya ini mereka diharapkan memiliki kegiatan.,” Pungkas Suster.

Output dari kegiatan ini adalah menjadi TOT, yakni teknik fasilitasi yaitu mereka mampu sosialisasikan kemasyarakat, jadi mereka palingtidak mengerti tentang undang-undang dan bagaimana cara-cara mendampingi korban.

Terkait hal tersebut suster Sesilia juga menjelaskan tentang peraturan pemerintah pengganti undang-undang tentang Kebiri yang telah ditandatangani oleh Presiden Jokowi, menurutnya bahwa ada hukuman mati atau hukuman seumur hidup dan Kebiri kimia, juga dengan memasang alat deteksi, jadi apa yang mereka lakukan langsung bisa diketahui.

Selain itu lanjut suster bahwa, memang sebetulnya hukuman mati itu tidak baik, karena hak hidup setiap orang tidak boleh dirampas karena Tuhan yang berhak cabut nyawa seseorang, tapi selama ini tidak dilaksanakan.
“Jadi kebiri itu maksudnya supaya dia tidak melakukan lagi, dan tidak bisa punya anak lagi,” Pungkasnya. (Nus Feka).

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY