Lembaga UNCEN Aktif Intervensi, Mahasiswa Minta BEM, MMP Jangan Naik Iuran Senat.

0
442

PAPUA,Zonadinamika.com. Mahasiswa Uncen dewasa ini menjadi salah satu daya tarik dari berbagai lembaga pemerintahan maupun lembaga non pemerintahan. Ini terlihat dengan ditawarkannya berbagai kegiatan ekstrakulikuler hingga berbagai kegiatan akademisi yang tujuannya adalah konon untuk berbagi pengetahuan hingga kerjasama kepada mahasiswa.

Tidak heran bila dalam setiap even-even besar mahasiswa pasti ada sponsor-sponor tertentu yang datang untuk menggaet kegiatan mahasiswa tersebut. Mulai dari pengadaan barang dan jasa yang tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan lapangan mahasiswa, dan tak jarang pula menggunakan mahasiswa ataupun senior dan alumni Uncenyang dianggap popular untuk menjadi daya tarik tersendiri terhadap sponsor dukungan itu.

Hal ini berdampak jauh terhadap independensi mahasiswa yang seharusnya tidak terkooptasi dengan kepentingan elit manapun dan sejalan dengan Pedoman Organisasi mahasiswa sebagai tercantum dalam Kepmendikbud no. 155 tahun 1998, dan AD/ART Kabesma UNCEN sendiri. Dalam keadaanya terlihat juga ketika lembagai UNCEN juga memainkan perannya terhadap niat yang dianggap “baik” oleh elit-elit tertentu tersebut, dengan membiarkan keadaan itu terus menghujani organisasi mahasiswa.

Melihat dinamika diatas, mahasiswa Uncen pada akhirnya menjadi pasrah dengan keadaan tersebut sehingga menganggap ini adalah sebuah kebiasaan serta rutinitas dan atau melatih kepopulerannya yang pada nantinya menjadikan ini sebagai panggung untuk turut menghancurkan independensi mahasiswa itu sendiri.

Selain itu, dalam menjalankan tugas kepengurusan mahasiswa(BEM dan MPM UNCEN) kemudian menaikkan iuran SMPT dari Rp. 20.000,- menjadi Rp. 50.000,- dengan alasan menunjang dinamika dan aktivitas mahasiswa UNCEN seperti yang terpampang pada baliho di halaman kampus UNCEN Abe. Dan kenaikan iuran UKT Mahasiswa atau SPP dianggap sebagai suatu penyesuaian terhadap keadaan zaman atau modernisasi dan juga untuk pengembangan rutinitas kegiatan mahasiswa.

Yang menjadi soal? Dimanakah Miliaran uang mahasiswa yang sebelumnya dikenakan biaya Rp. 20.000,- x ±5000an mahasiswa yang tidak sebanding dengan kegiatan dan pengeluaran mahasiswa, dan atau SPP tunggal yang pembayarannya diluar kemampuan orang tua mahasiswa dan pembayaran SPP tunggal tersebut masih saja diselingi dengan pungutan liar dari dosen tertentu -yang tidak sesuai dengan rincian pembayaran SPP tunggal– tanpa ada pengawasan dari pihak pimpinan kampus sehingga ini tampak seperti pembiaran sistematis.

Sedang lembaga Uncen terus sibuk untuk merombak dan mengintervensi gerakan mahasiswa sebagaimana pada papan yang pernah dipasang pada pagar kampus Uncen waena pada point keenam, yakni “mahasiswa dilarang berdemo, dan jika melanggar akan berhadap dengan pihak berwenang” hingga penguluran waktu pelantikan pimpinan mahasiswa, penundaan bahkan penolakan terhadap suatu kegiatan mahasiswa yang dianggap berlawanan dengan kepentingan kampus. Dan jika tidak ada mahasiswa yang kritis terhadap hal yang dianggap adalah suatu masalah, maka beginilah keadaannya.
Melihat dinamika tersebut, maka:

1. Kami Mahasiswa Uncen mendesak agar, BEM dan MPM Uncen segera mengembalikan iuran yang dinaikkan menjadi Rp. 50.000,- seperti sedianya yakni Rp.20.000,- mengingat belum adanya pertanggung jawaban yang jelas dari pihak lembaga dan pengurus mahasiswa universitas cenderawasih(periode sebelumnya) terkait dana 20.000,- x sekitar 5000an mahasiswa yang setiap tahunnya membayar iuran senat mahasiswa tersebutsedang tidak sebanding dengan pergelaran kegiatan mahasiswa, dan kalaupun ada kegiatan mahasiswa itu gandengan lembaga tertentu(Proposal kegiatan). Dan jika sudah ada mahasiswa yang membayar maka pihak lembaga mengambalikannya, sebagai bentuk tanggung jawab moriil dan kedeawasaan lembaga dalam mengatur keuangan mahasiswa Uncen tersebut.

2. Kami mahasiswa Uncen mendesak lembaga Universitas Cenderawasih(red. Pihak Rektorat) untuk menjelaskan jalur administrasi keuangan mahasiswa UNCEN, dari SPP tunggal atau UKT Mahasiswa hingga biaya operasinal mahasiswa –beasiswa dan operasional kegiatan mahasiswa– dari pusat(Kementerian Pendidikan) hingga daerah dengan Gelontoran Miliaran dana Otsus dan bantuan biaya pendidikan lainnya.

3. Berdasarkan poin 2, jika lembaga Uncen tidak mampu untuk menjawabnya sesuai mekanisme UU Keterbukaan Publik No. 14 tahun 2008, maka kami Mahasiswa Uncen akan memanggil Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK) untuk melihat situasi apa yang sebenarnya terjadi di Universitas Cenderawasih ini, terhadap keuangan yang tujuannya adalah mendidik kami mahasiswa Universitas Cenderawasih.

4. Lembaga Universitas Cenderawasih STOP JADIKAN AUDITORIUM MAHASISWA SEBAGAI LAHAN BISNIS TEMPAT PERNIKAHAN DAN KEGIATAN APAPUN DILUAR KEGIATAN UNIVERSITAS, yang memakan puluhan Juta tanpa ada kejelasan dana operasionalnya! DAN AUDITORIUM SEGERA DIKEMBALIKAN FUNGSINYA YAKNI SEBAGAI TEMPAT BELAJAR, DISKUSI, SEMINAR DAN BEDA BUKU, SERTA HASIL KARYA AKADEMISI MAHASISWA DAN DOSEN SENDIRI.

5. Sebagaimana pada poin ke 2 dan 3a, maka kami mengharapkan lembaga Uncen untuk menjawabnya secara terbuka dihadapan mahasiswa UNCEN pada pembukaan kuliah semester genap tahun 2016 nantinya.

6. Lembaga Universitas Cenderawasih STOP MENGINTERVENSI kegiatan dan aktivitas mahasiswa atau keindependenan mahasiswa.

Badan Eksekutif Mahasiswaaan diketuai oelh Yali Wenda FISIP UNCEN 2015/2016 dan sekretaris jenderal
Samuel Wonsiworpada 24 Mei 2016

Wartawan:Musa Boma

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY