Jasamah 44 Tahun Terbaring,Butuh Uluran tangan Dermawan Dan Pemerintah

0
46
Jasamah (44), yang disapa akrab Ma ini harus terbujur tak berdaya

Lampung Utara,Zonadinamika.com:  Siang itu sinar dikala matahari nampak terang bersinar di sebuah perdukuhan Desa Gunung gijul, Kecamatan Abung Tengah Kabupaten Lampung Utara. Tepatnya Dusun Talang diring, terdapat dua pasang kakak-adik tinggal dalam satu atap, di sebuah rumah panggung yang sangat sederhana.

Dimana diatapnya hanya ditutupi dengan seng dan sedikit genteng yang telah usang rupanya. Jasamah (44), yang disapa akrab Ma ini harus terbujur tak berdaya di salah satu ruangan rumah berada tepat di samping dapur dengan beralaskan tikar seadanya ia harus menyendiri dalam ruangan berukuran 2 × 2 m saja, dengan satu lubang angin berukuran tak lebih 20 cm × 20 cm.

Disanalah tempat peristirahatan dan segala aktivitas sehari hari dilaksanakan, mulai dari makan, minum dan MCK (mandi cuci dan kakus) baginya. Maklum saja sejak lahir telah mengalami cacat bawan, jangankan untuk berjalan berbicara saja ia tak bisa. Selama hampir lima dekade waktunya dihabiskan dipembaringannya saja dengan duduk dan tidur.

Ia hanya di tunggui oleh adiknya, Alpaidi yang berstatus bujangan tak lebih darinya dan lebih muda 2 tahun itu umurnya. Dengan hanya mengandalkan hidup dari pekerjaan keseharian sang adik menderes karet, tidak lebih dari 150.000/minggu nya harus memenuhi kebutuhan hidup dua kakak beradik ini.

Jangankan untuk membawa sang kakak ke fasilitas kesehatan, ditengah-tengah tinggi harga kebutuhan pokok belakangan ini. Untuk makan pun Alpaidi mengaku telah kewalahan, apalagi untuk mengobati saudarinya tersebut. “Saat ini saya hanya bisa pasrah, menunggu uluran tangan dermawan atau pemerintah yang peduli pada kami. Sebab, untuk mengobati nya sampai sembuh benar seperti orang normal kebanyakan mustahil. Kami hanya mampu membawanya ke alternatif, disana pun mereka tak sanggup mengobati sampai sembuh total,”kata pria malang ini yang harus rela hidup membujang hampir setengah abad tersebut demi menjaga sang kakak yang tidak dapat melakukan aktivitas seperti orang normal itu.

Ia pun hanya bisa pasrah menghadapi ujian yang diberikan tuhan pada nya itu, sebab, ia telah berupaya kemana-mana namun masih saja tidak mendapatkan hasil. Dan bantuan pemerintah pun tidak pernah didapat, untuk sekedar mengurangi beban keluarganya itu.

Sehingga ia mengaku harus berjuang meski getir, apalagi dikala sang kakak membutuhkan bantuannya segera padahal sedang bekerja. “Itu yang paling banyak saya rasakan, saat sedang sibuk-sibuk tiba-tiba kakak ingin makan atau minum. Terpaksa berhenti dulu bekerja, pulang untuk membantunya. Mau bagaimana keadaannya seperti ini, terpaksa memilih untuk sendiri demi berbakti pada keluarga,”terangnya.

Menurutnya, Ma adalah anak kedua dari lima bersaudara, sementara dirinya anak ke tiga. Disana hanya tinggal berdua saja, orang tua lelakinya telah meninggal dunia, sementara sang ibu telah sakit-sakitan dan penglihatannya tidak ada. Kini tinggal di kotabumi pada kerabatnya yang lain, praktis mereka hanya berdua saja sementara saudara lainnya telah meningalkan kampung halaman.

Hal tersebut diamini oleh Kepala Desa Gununggijul, Feri Ferdiyansyah. Menurutnya, kedua saudara sekandung ini kehidupannya cukup memprihatinkan, sehingga membutuhkan uluran tangan dari para dermawan ataupun pemerintah. Sehingga dapat mengurangi beban hidupnya yang semakin berat dalam keterbatasan ekonomi keluarganya. “Kalau desa sifatnya hanya ala kadarnya melalui swadaya masyarakat, itupun terbatas dengan kondisi perekonomian warga. Kalau masalah bantuan, keluarga ini praktis tidak ada yang didapat. Jadi kami mohon kiranya yang bersudi memberikan uluran tangan, monggo ditunggu,”kata dia. (andri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here