Yanto Waine Mengaku Polisi Minta jadi Mata-Mata Petugas

NABIRE – Zonadinamika.com. Yanto Waine, aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Nabire mengaku, ketika dirinya ditangkap aparat Kepolisian Resort (Polres) Nabire pada 30 Juni 2017 di jalan Medan, Karang Mulia saat membagikan selebaran untuk memperingati 1 Juli sebagai hari Proklamasi Bangsa West Papua ia ditawari menjadi mata-mata Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Setelah saya ditangkap oleh intel Polres Nabire di jalan Medan, saya langsung dinaikan dalam mobil Avanza, lalu bawah ke kantor Polres. Tidak dipukul tapi dimaki-maki saja. Namun, sesampai di Polres mereka (polisi) tawarkan saya menjadi mereka punya mata-mata. Polisi bilang mau belikan Hp Samsung, kasih uang, kendaraan motor dan lainnya,” cerita Yanto Waine kepada media ini ketika ditemui di Nabire, Minggu, (16/7/2017).

Waine menjelaskan,  penawaran itu bukan hanya dilakukan oleh beberapa oknum polisi namun bergantian selama empat ia berada di dalam tahanan Polres Nabire yang berlokasi di Meriam. “Bukan hanya satu orang saja yang tawar,” ucapnya.

“Mereka tawar saya jadi mata-mata itu untuk melaporkan setiap aktivitas yang dilakukan oleh kawan-kawan KNPB Nabire. Jadi, saat saya ditangkap polisi Tanya secretariat KNPB Nabire di mana, ada berapa orang anggota KNPB Nabire, biasanya buat apa saja, siapa yang biasa donor dana. Tapi saya jawab saya tidak mau jelaskan karena KNPB selalu ada di tengah-tengah masyarakat dan saya tolak semua penawaran dari polisi,” tegasnya.

Mengapa kamu menolak penawaran itu? Ia mengungkapkan, apabila dirinya menyetuji penawaran itu ibarat telah menjual rakyat Papua terutama telah membunuh secara tidak langsung terhadap rekan-rekan seperjuangannya. “Saya tolak semua, tolak karena saya ini aktivis Papua Merdeka. Bukan main-main,” katanya.

Ketua KNPB wilayah Nabire, Andy Yeimo mengatakan, ketika dirinya bersama Samuel Kobepa ditahan polisi di halaman Polres Nabire dipukul dengan besi, rotan, popor senjata dan tendagan sepatu lara hingga tak berdaya.

Menurutnya, ketika mereka dua hendak dikeluarkan lantaran desakan dari rekan-rekannya kepolisian sempat meminta tanda tangan untuk menyetujui tidak akan terulang lagi melakukan unjuk rasa atas perjuangan Papua Merdeka di Nabire.

“Tapi saya dan teman Samuel Kobepa tolak, tidak mau tanda tangan. Jadi, apabila ada tanda tangan surat pernyataan tidak lagi melakukan aksi Papua Merdeka di Nabire berarti palsu. Karena kami tidak tanda tangan surat pernyataan itu,” tegas Andy.

Samuel Kobepa menambahkan, kejadian kemarin merupakan awal untuk melangkah ke aksi besar-besaran ke depan. Sehingga kejadian kemarin justru memperuncing pihaknya untu terus melakukan turun jalan. “Kami akan tetap turun jalan teriakan Papua Merdeka. Jadi, polisi jangan alergi,” katanya. (*)

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan