Djarot Tolak Pemindahan Ibu Kota

0
23

JAKARTA-Zonadinamika.com.Wacana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke wilayah lain di Indonesia jelas  hal ini ditolak Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Tak tanggung-tanggung, Djarot menyampaikan penolakan pemindahan ibu kota di depan Presiden Joko Widodo.

Penolakan Djarot atas wacana pemindahan ibu kota tersebut disampaikannya dalam sambutan di acara Lebaran Betawi di Setu Babakan, Jakarta Selatan, Minggu (30/7) kemarin. Sambutan Djarot disampaikan langsung di depan Jokowi. Sembari meminta maaf ke Jokowi, Djarot menolak rencana pemerintah itu.

“Oleh karena itu, kalaupun ada wacana pindah ke mana-mana, maaf Bapak Presiden, kami masih belum yakin terhadap aura dan cikal bakal. Bahwa Jakarta adalah miniatur Indonesia,” ucap Djarot.
Djarot punya alasan untuk tak setuju dengan wacana pemindahan ibu kota. Menurutnya, bukan tanpa alasan Bung Karno memilih Jakarta sebagai Ibu Kota. Jika terus dibangun dan ditata dengan serius, Djarot yakin Jakarta dapat menyaingi ibu kota di negara-negara maju lainnya.

“Karena miniatur Indonesia ada di Jakarta. Oleh karena itu, hal seperti ini tidak perlu diwacanakan terlalu melebar. Kita kerja keras, kerja keras agar Jakarta sebagai Ibu Kota Negara yang bukan hanya dibanggakan oleh bangsa Indonesia, tapi juga sejajar dengan ibu kota negara lain,” jelas  kata Djarot.

Usai menolak wacana pemindahan Ibu Kota di depan Jokowi, Djarot kembali melontarkan pernyataan yang sama. Hari ini, Djarot mempertanyakan alasan mengapa ibu kota negara harus dipindahkan.

“Saya pikir kalau kita konsisten seperti ini, maka menurut saya, ngapain ibu kota negara dipindah?” kata Djarot di Balai Kota pagi ini.

Lebih lanjut, Djarot menilai pemindahan ibu kota negara bukan perkara mudah. Menurutnya, lebih baik pemerintah fokus pada pengembangan kota Jakarta di berbagai sektor agar lebih maju.

Menurutnya, beberapa persoalan di Jakarta harus segera diselesaikan agar wacana pemindahan ibu kota urung dilaksanakan. Djarot menitikberatkan pembenahan pada sektor transportasi massal agar Jakarta tak terus-terusan macet.
“Sekarang ini kan macet, maka kita geber betul pembangunan sektor transportasi publik. Memang masih macet, tapi coba kita lihat kalau program pembenahan transportasi publik tetap berlanjut secara mendasar dilakukan di Jakarta dan ini sudah dimulai, kemudian baru mencapai 50 sampai 60 persen. Ini diteruskan, maka Jakarta akan sangat berkurang tingkat kemacetannya,” jelas Djarot.
berbagai aspek: sosial politik, infrastruktur, dan perekonomian. Semua dihitung, kemudian baru
(an)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY