SBY Tersesat Dalam Pentas Politik Dki Pada Putaran Ke Dua

0
70

JAKARTA-Zonadinamika.com. KPU DKI Jakarta telah memutuskan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua antara Ahok-Djarot berhadapan dengan Anies-Sandi jatuh pada tanggal 19 April 2017.

 

Putaran ke dua ini tentu bukan pertarungan sederhana bagi kedua kandidat. Dua kandidat ini harus berebut suara pasangan nomor urut satu Agus-Sylvi yang tersingkir di putaran pertama dengan perolehan suara sebanyak 17,06%.

 

Proses konsolidasi dua kandidat ke pasangan Agus-Sylvi agar bergabung menuju putaran ke dua akhirnya terbaca ada yang terganjal yang diwarnai dengan pernayataan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memilih “NETRAL”.

 

Pernyataan netral oleh SBY ini cukup mudah dibaca. Pilgub DKI Jakarta yang melibatkan para Politisi ditingkat pusat, suhu politik tarik-menarik kepentingan bagaikan pemilihan Presiden. Dimana, Para punggawa politisi diantaranya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mendukung Anies-Sandi, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri yang mendukung Ahok-Djrot, bahkan diduga kuat Presiden Jokowi juga terlibat mendukung Ahok-Djarot membuat rumit dan tidak bertemu posisi kualisi antar dua pasangan calon yang maju ke putaran ke dua dengan pasangan Agus-Sylvi yang tersingkir di putaran pertama.

 

Rumitnya posisi kualisi antar dua kandidat yang maju ke putaran ke dua dengan Agus-Sylvi ini akibat hubungan politik para punggawa yang mendukung Anies-Sandi dan Ahok-Djarot tidak pernah ketemu dengan SBY bagaikan rival politik seumur hidup.

 

Masih ingatkah putusan calon kandidat gubernur DKI Jakarta melalu putusan rapat kualisi Cikeas ? Bukankah keputusan itu membuat Prabowo Subianto malu kepada publik karena tidak dianggap oleh SBY ? itu salah satu gambaran umum hubungan politik Prabowo Subianto dengan SBY tidak pernah harmonis. Sama halnya Megawati dan Jokowi. Pernahkah Megawati atau Jokowi punya hubungan politik yang baik dengan SBY Atau sebaliknya ?. Tidak pernah ada.

 

Menyadari hal itu, maka sudah benar sikap yang diambil oleh SBY memilih netral. Netral bukan berarti tidak bisa berkualisi atau melihat peluang kandidat siapa yang akan menang baru berkualisi, tapi peluang untuk berkualisi ditutup oleh masing-masing punggawa termasuk SBY karena ego politik yang tinggi. Dengan demikian, dalam pentas politik DKI pada putaran ke dua nanti, SBY tidak punya pilihan lain kecuali memilih diam ditempat.(bam2ng)

 

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY