Uang Ketok ,Mengaku Wakil Rakyat, Rampok Uang Rakyat.

0
325
uang suap/ilustrasi

JAKARTA –Zonadinamika.com. Keangkuhan banyak wakil rakyat di negeri ini, terkadang jadi awal mala petaka pada sejumlah pimpinan daerah, tak tanggung tanggung, kebanyakan para wakil rakyat banyak azas mamfaat,selain terungkapnya kunker fiktif dan juga proyek asfirasi menjadi tolak ukur banyak pihak, bahwa para wakil rakyat yang mengaku terhormat tersebut tak bedanya ibarat “Musang berbuluh dombah”.

Liat saja kasus Gatot Pujo Nugroho, dengan dalil karena kuran baik komunikasi dan uang ketok anggaran dengan para wakil rakyat di Sumut, wakil rakyat ini ramai-ramai rampok uang rakyat.

Selain dengan tujuan untuk menciptakan agar komunikasi dengan sang gubernur berjalan lancer, Terdakwa kasus suap DPRD Sumut Ajib Shah mengakui kalau Gatot Pujo Nugroho, eks Gubernur Sumut memberikan uang sebesar Rp 15 juta ke tiap anggota DPRD. Gatot memberikan uang tersebut sebagai bentuk uang komunikasi karena terjadi hubungan yang tidak harmonis dengan DPRD. Ajib merupakan Ketua DPRD Sumut non aktif.

Salah satu jaksa bertanya kepada Ajib terkait pemberian uang dari Gatot melalui anggota DPRD Sumut periode 2014-2019 Indra Alamsyah. Awalnya Ajib menepis pemberian uang itu, tapi ia kemudian mengakui mendengar adanya uang tersebut. Hal tersebut disampaikan Ajib di Pengadilan Tipikor, Kemayoran, Jakarta, Rabu (18/5/2016).

“Tapi kalau dari yang dengar berapa?” tanya jaksa.

“Belakangan dengar Rp 800 juta” kata Ajib.

“Dari 800 kalau dibagikan ke anggota dapat berapa per orang?”

“Setelah saya baca di BAP Rp 15 juta per anggota,” kata Ajib.

Ajib kemudian ditanya oleh JPU terkait apakah ia menerima uang dari Gatot. Ajib kemudian memberi jawaban kalau dirinyan tidak menerima uang sepeser pun. Kemudian jaksa bertanya kepada Ajib terkait apakah Ajib menerima proyek dari Gatot.

“Sampai sekarang belum pernah ada,” kata Ajib.

Uang komunikasi silaturahmi dilakukan Gatot dengan anggota lintas fraksi untuk mencapai kesepakatan agar interpelasi terhadap Gatot bisa dibendung. Sebab Gatot membutuhkan ‘dukungan’ dari 55 orang agar interpelasi tidak memenuhi kuorum.

Hari ini pengadilan Tipikor memeriksa terdakwa Ajib, eks Ketua DPRD Sumut 2009-2014 Saleh Bangun, eks Wakil Ketua DPRD Sumut 2009-2014 Sigit Purnomo, dan eks Wakil Ketua DPRD Sumut 2009-2014 Chaidir Ritonga.

Pada sidang dakwaan sebelumnya, Ketua DPRD Sumatera Utara (nonaktif) Ajib Shah didakwa menerima duit Rp 1,195 miliar dari Gatot Pujo Nugroho saat menjabat Gubernur Sumut. Uang yang diterima Ajib Shah ditujukan menyetujui pengesahan APBD Sumut.

Menurut Jaksa, duit tersebut diberikan Gatot agar Ajib memberikan persetujuan terhadap Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Provinsi Sumut Tahun Anggaran (TA) 2012, persetujuan terhadap Perubahan APBD Provinsi Sumut TA 2013, persetujuan terhadap APBD Provinsi Sumut TA 2014 dan persetujuan terhadap APBD Provinsi Sumut TA 2015.

Uang suap Rp 1,1 miliar menurut Jaksa KPK diterima Ajib beberapa kali. Gatot menyerahkan uang tersebut melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumut Nurdin Lubis, Sekretaris DPRD Sumut Randiman Tarigan, atau Kabiro Sekretariat Daerah Pemprov Sumut Baharuddin Siagian. Besaran duit yang diberikan bertahap ini berkisar mulai dari Rp 30 juta hingga Rp 900 juta.

Selain kepada Ajib, Gatot juga memberikan ‘uang ketok’ kepada pimpinan DPRD Sumut lainnya yaitu Saleh Bangun, Chaidir Ritonga, Sigit Pramono Asri, dan Kamaluddin Harahap.

‘Uang ketok’ diberikan dengan tujuan yang sama, yakni memuluskan persetujuan APBD Pemprov Sumut tahun anggaran 2012 hingga 2015.

Atas perbuatannya, Ajib Shah dijerat dengan Pasal 12 huruf b jo Pasal 18 atau Pasal 11 jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat 1 KUHP.(an)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here