Suka Mengintimidasi, Agung Podomoro Land, Jangan Sok Jago di Negeri ini

JAKARTA,Zonadinamika.com. Gerakan Agung Podomoro Land dalam pengembangan bisnisnya di Indonesia, memang kerap menuai masalah, dan tidak sediktnya oknum pejabat masuk bui dengan tuduhan terimah suap dalam aksi agung Podomoro melancarkan bisnisnya.

Reklamasi yang menjadi sorotan public dan menyita pikiran sejumlah pejabat negeri ini, dan juga telah makan korban anggota DPR akibat OTT oleh KPK dengan tuduhan suap.

Selain berani menghamburkan uang demi suksesnya bisnis, tak tanggung-tanggung, menyerobot, dan melanggar ketentuan atau batas wilayah akan di lakukan, bahkan kalangan masyarakat sepeetinya kerap mendapat intimidasi dilapangan.

Itu sebabnyya kemarahan akan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli yang saat mendatangani Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Muara Angke untuk berdiskusi dengan nelayan. Dalam diskusi dengan nelayan yang berlangsung selama 60 menit, Menteri Rizal sempat kesal dan menggebrak meja sebanyak dua kali.

Hal ini karena dirinya merasa PT Agung Wisesa, anak perusahaan Agung Podomoro Land, selaku pengembang Pulau G bertindak sok. Siapapun pun tak diizinkan melewati Pulau G yang dijaga ketat termasuk nelayan.

“Saya pingin tahu siapa yang sok jago di sini? Bilang sama Podomoro, jangan ada yang sok jagoan di sini,” ujar Rizal di TPI Muara Angke, Jakarta, Rabu (4/5).
Ucapan Menko Rizal disambut riuh gembira oleh para nelayan. Selain itu beberapa nelayan masih menyampaikan keluhannya, salah satunya kerap diintimidasi oleh pihak pengembang.

“Saya tidak peduli! Siapa yang mengancam nelayan? Tunjuk mukanya sekarang. Ini republik didirikan buat semua. Jangan sok jago!,” ucapnya kesal.
Lanjut Rizal, dirinya meminta anak usaha Agung Podomoro tersebut tidak bersikap seenaknya kepada nelayan dan membiarkan nelayan untuk hidup tenang dalam mencari ikan dan memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Masa mau disingkirkan lagi nelayan di Angke ini yang sudah 4 kali digusur? Pindah ke sini mau digusur lagi? Itu nggak bener. Rakyat kita punya hak untuk itu, apalagi kehidupan nelayan di Indonesia termasuk yang paling miskin secara sosial,” pungkasnya.

ANCAM BATALKAN REKLAMASI

Tidak hanya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Muara Angke, Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli, mengingatkan PT Kapuk Naga Indah (KNI) selaku pengembang untuk mengikuti aturan pemerintah terkait Reklamasi Pantai Utara Jakarta. Rizal Ramli tak segan memberhentikan proyek reklamasi untuk selamanya jika pengembang membangkang dan tak ikut aturan pemerintah.

“Mau enggak pengembang ikut pemerintah? Saya langsung saja enggak usah ribet. Kita perkenankan kalau pembangunannya memenuhi aturan negara. Pelanggar dan tidak memenuhi aturan negara, akan kita setop selamanya,” ujar Rizal di Pulau D, Muara Angke, Jakarta, Rabu (4/5).

“Negara harus mengakomodasi kepentingan rakyat utamanya nelayan. Intinya pengembang mau ikut kita enggak, kalau engga mau nurut di sikat!,” sambung Rizal.
Rizal menambahkan, pihaknya ingin kasus Reklamasi Teluk Jakarta bisa menjadi percontohan untuk reklamasi lainnya di Indonesia.

“Apa yang terjadi di DKI akan jadi benchmark reklamasi semua di Indonesia. Bu Siti nanti akan meriview semua reklamasi di Indonesia,” pungkasnya.
Untuk diketahui, proyek reklamasi Pantai Utara Jakarta tengah dihentikan sementara. Sejumlah pihak menentang pembangunan tersebut karena dinilai akan banyak merugikan Jakarta.

Rizal Ramli mengatakan, meminta pemangku kepentingan terkait tetap mengedepankan solusi adil bagi megaproyek ini. Dia tidak ingin ada sekat sosial dengan hadirnya proyek reklamasi tersebut.

“Saya tidak mau Jakarta ini ada benteng-benteng. Orang kaya semua yang tinggal, orang miskin ke mana? Jangan seperti di Latin, rumahnya pakai benteng, mobilnya pakai antipeluru, karena mereka takut sama orang miskin,” kata dia di Pulau G, Muara Angke, Jakarta, Rabu (4/5).

Menko Rizal menambahkan, Indonesia perlu belajar dari Singapura yang tidak memberi sekat sosial dalam lingkungan masyarakatnya. Maka dari itu, pihaknya bersama beberapa kementerian terkait kini terus melakukan evaluasi untuk menemukan solusi terbaik.
“Ini harus ada win-win, kita kurangi risikonya semaksimal mungkin,” ujar Menko Rizal. (zd/an)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan