Presiden Minta Menko Polhukam Bertindak Cepat Terkait Pembakaran Gereja.

0
627

Jakarta-Zoandinamika.com. Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta pembantunya di bawah Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Pandjaitan bertindak cepat menangani tindakan kekerasan di Singkil, Aceh yang merembet pada pembakaran gereja di sana. Perlindungan warga negara diminta ditegakkan, juga perdamaian segera dilakukan.

“Presiden Joko Widodo memerintahkan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Pandjaitan dan Kapolri Badrodin Haiti untuk segera mengambil langkah cepat dalam menghentikan kekerasan,” kata Ari Dwipayana dari Tim Komunikasi Presiden di Jakarta, Selasa (13/10).

Perintah tersebut, kata Ari, disampaikan Presiden melalui telepon pada hari ini. “Presiden meminta agar peristiwa itu tidak merembet ke mana-mana dan bisa diselesaikan dengan baik,” katanya.

Selasa (13/10) siang menyusul aksi protes warga terhadap keberadaan gereja di daerah itu yang tidak memiliki izin disertai dengan pembakaran dan penembakan. Massa dalam jumlah besar dengan ikat kepala putih plus bambu runcing dan senjata tajam bergerak liar.

Puncaknya sebuah gereja di Desa Suka Makmur, Gunung Meriah, dibakar. Massa sebelum bergerak ke arah Simpang Kanan sebenarnya telah dihalau oleh aparat keamanan yang bersenjata lengkap dan berjaga-jaga. Namun suasana sulit dikendalikan sehingga pembakaran rumah ibadah tak bisa dihindari. Dalam kasus tersebut, seorang dikabarkan tewas dan empat lainnya menderita luka-luka.

Kapolres Aceh Singkil Ajun Komisaris Besar Polisi (AKPB) Budi Samekto kepada Suara Pembaruan, saat dikonfirmasi via telpon, Selasa (13/10) sore membenarkan peristiwa itu terjadi. Namun dia mengaku belum bisa memberikan keterangan lebih terperinci kepada pers karena saat ini sedang berada di lapangan untuk mengendalikan keadaan.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Kementerian Agama Kabupaten Aceh Singkil Drs Salihin Mizal bahwa di Aceh Singkil. Menurutnya saat ini terjadi aksi protes warga terhadap keberadaan gereja yang tidak memiliki izin. Masalah tersebut sudah dibahas tadi malam untuk dicarikan jalan keluar termasuk yang belum ada izin akan diberikan waktu untuk mengurusnya.

Namun namun warga tidak sabar sehingga terjadi aksi massa besar, hingga terjadi aksi pembakaran. Kerusuhan pun terpecah. Hingga Selasa sore ini, kondisi di Aceh Singkil masih mencekam, banyak warga tidak berani keluar rumah.

Menurut sumber di Aceh Singkil, aksi ini dipicu oleh ketidakpuasan warga dengan kesepakatan Pemkab Aceh Singkil, tokoh ulama serta ormas terkait pembongkaran gereja. Massa menginginkan eksekusi pembongkaran dilakukan hari ini juga.

Sedangkan dalam kesepakatan pembongkaran baru dilakukan pekan depan. Situasi mencekam sangat terasa sejak Selasa dini hari tadi. Pembakaran rumah ibadah terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Sekitar 800 meter sebelum lokasi mereka turun dari mobil bak terbuka dan sepeda motor. Kemudian berjalan kaki menuju sasaran. Selesai dari sana masa kembali bergerak, namun arah dan tujuannya sulit diprediksi.

Sumber lain menyebutkan, aksi itu digerakkan oleh Pemuda Pemudi Islam (PPI) Aceh Singkil yang menuntut pembongkaran rumah ibadah tidak berizin. Aksi itu menimbulkan jatuhnya korban seorang tewas dan empat orang mengalami luka parah akibat tertembak. Korban tewas adalah Samsul (21), sedangkan korban luka masing-masing Uyung, Rahman, Salma, dan Narto, ajudan Komandan Kodim Aceh Singkil.

Kapolda Aceh Irjen Pol Husein Hamidi mengimbau semua pihak, terutama masyarakat di Kabupaten Singkil dan daerah sekitarnya untuk menahan diri dalam menyikapi bentrok massa di Desa Dangguran, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil.

“Kami imbau masyarakat menahan diri untuk tidak melakukan tindakan main hakim sendiri. Polri akan menangkap dan menindak tegas setiap orang yang terlibat dalam aksi pembakaran dan yang menembak dengan senapan angin,” tegas Kapolda.

Menurut Husein, saat ini petugasnya di lapangan terus bekerja untuk menenangkan massa. Kapolda pun berjanji akan mengusut tuntas insiden tersebut. Ia juga meminta semua pihak untuk tidak terburu-buru menyebarkan berita yang belum terkonfirmasi kebenarannya.

Sementara itu, Mabes Polri menyatakan, sekitar 20 orang diperiksa buntut pembakaran sebuah gereja di Desa Suka Makmur, Gunung Meriah, Aceh Singkil, Selasa (13/10) siang.

“Saat ini telah terjaga maksimal. Kejadian tadi adalah saat massa di desa Suka Makmur dihalau petugas. Saat itu ada api yang terlempar lalu menyebabkan satu bangunan (gereja) terbakar,” kata Kabag Penum Polri, Kombes Suharsono, di Mabes Polri, Selasa (13/10) sore.

Saat dalam kericuhan itulah ada seorang warga yang belakangan dikenali sebagai Syamsul yang terkena senapan angin dan kemudian tewas.
“Kita saat ini melakukan pengejaran dan pencarian untuk cari siapa pelaku (penembakan dan pembakaran). Senjata belum diketemukan. Ada sekitar 20 yang diperiksa,” imbuhnya.

Saat ini semua titik rawan dijaga ketat. Polres Singkil dan Polres lain di Aceh juga bersiaga mengantisipasi agar tidak terpancing dan menyebabkan kejadian serupa di daerah lain.

DIRENCANKAN

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan massa yang membakar gereja GHKI di Desa Suka Makmur, Gunung Meriah, Aceh Singkil Selasa (13/10) siang sudah merencanakan aksinya.

“(Potensi masalah) empat bulan yang lalu telah diketahui. Oleh karena itu saya menyesalkan ada pembakaran. Ada 20-an orang yang ditangkap, masih didalami apakah yang ditangkap ini terlibat atau tidak. Kami tindak tegas,” janji Badrodin dalam rilis di rumah dinasnya Selasa (13/10) malam.

Massa, menurut jenderal bintang empat itu, telah merencanakan aksi tersebut. Buktinya mereka mengendarai 20 motor, 3 mobil pikap, dan 3 unit mobil Mitsubishi Colt Diesel. Mereka juga membawa kapak, bambu, dan parang.

“Saya minta semua untuk menahan diri agar jangan sampai masyarakat terpancing oleh provokasi melalui SMS. Kami akan menyelesaikan kasus ini secara hukum,” tegasnya.

Hingga kini menurut mantan Kapolda Sumut itu tidak terdeteksi adanya pergerakan sebagai aksi balas dendam dari massa di Sumatera Utara untuk masuk ke Aceh Singkil.

“Massa yang meninggal itu saya duga tidak terkena senapan angin, tapi airgun, tapi kepastiannya akan kami cek di forensik,” imbuhnya.
Badrodin berharap ada penyelesaian kasus ini secara damai. Tidak hanya Polri dia berharap Pemda dan pihak terkait untuk menyelesaikan masalah perizinan rumah ibadah ini. (zd)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY