Pelindo III Gelar Konferensi Bisnis Maritim

0
281

SURABAYA – Zonadinamika.com. Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) sebagai salah satu BUMN Kepelabuhanan bersama-sama menggandeng PPM Manajemen akan menggelar Konferensi Bisnis Maritim, 28-29 Oktober 2015.

Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto mengatakan bahwa tujuan konferensi ini untuk meningkatkan pemahaman kepada para stakeholder yang terkait dengan kepelabuhanan dan kawasan industry, khususnya strategi melakukan relokasi pabrik, pengembangan infrastruktur, peningkatan efisiensi biaya logistik, dan peluang bisnis yang menarik dalam mendukung program kemaritiman kabinet kerja.

“Konferensi yang digelar bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda ini juga benar-benar akan terasa kemaritimannya, karena akan diselenggarakan di Terminal Penumpang Kapal Laut Gapura Surya Nusantara yang berada di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan view aktifitas kapal dan bongkar muat barang” kata Edi.

Rangkaian acara konferensi yang diselenggarakan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda tersebut terbagi menjadi beberapa kegiatan diantaranya workshop dengan tema Supply Chain Management, Strategi mendesain Business Model, Integrated Risk Management.

Selama ini pembangunan Indonesia belum berpihak ke wilayah timur, mana mungkin biaya logistik di sektor maritim bisa ditekan ? Indonesia sebagai negara kepulauan wajib menjadikan laut sebagai sarana transportasi logistik paling utama. Wilayah seluas 5,180,053 km2 Indonesia membentang, lengkap dengan 17,504 pulau dengan luas perairan 5,8 juta km2 dan panjang garis pantai 104.000 km.

Salah satu sektor yang bisa mengantarkan kejayaan Indonesia adalah Perikanan dan Kelautan. Potensi kelautan mampu memberikan kontribusi pada keuangan negara hingga mencapai US$ 1,2 triliun dan bahkan bisa digenjot sampai US$ 1,8 triliun per tahun.

Saat ini, kata Edi, pemerintah mempunyai program unggulan, pembangunan di bidang kemaritiman khususnya logistik maritim. Berbagai kebijakan di bidang kemaritiman sudah mulai diterapkan. Dunia usaha perlu mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang terkait dengan strategi dan kebijakan pemerintah dalam pengaturan investasi dan pengaturan arus lalu lintas barang melalui laut dan mengembangkan kawasan timur Indonesia.

“Tol Laut, tentu saja bukan membangun jalan tol di atas laut. Ini adalah program pemerintahan yang baru, yakni program terintegrasi yang bukan hanya membangun pelabuhan saja, tapi dilakukan mulai dari membangun jaringan rel kereta, menyiapkan armada angkutan truk dan bus, juga percepatan wilayah yang bisa dijadikan industri. Bisa dibilang ini adalah persoalan yang bermula dari pesisir sampai mendalam kedaratan,” jelasnya.

Infrastruktur pelabuhan yang memadai untuk perpindahan barang ke jalan, rel dan moda air pedalaman, lanjut Edi, akan menarik pengguna jasa untuk menggunakannya sebagai alat distribusi logistik berbiaya rendah.

“Diperlukan kesiapan pelabuhan dan pengatur pelayaran serta penataan kendaraan pengangkut barang. Harapannya kepadatan truk pengangkut di pelabuhan bisa dikurangi, sehingga bisa menghasilkan pergerakan barang yang efisien,” imbuhnya.

Menurutnya, sebagai negara yang sebagian besar wilayahnya lautan, seharusnya pelabuhan di Indonesia menjadi sarana paling penting untuk menghubungkan antar pulau maupun antar negara. Pelabuhan harus memacu pertumbuhan ekonomi wilayah di sekitarnya bahkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Dengan dilandasi semangat sumpah pemuda diharapkan konferensi ini memiliki semangat yang sama seperti semangat para pemuda dalam menggelorakan sumpah pemuda pada era tahun 1928 khususnya dalam membangkitkan gairah masyarakat dan para stakeholder dalam rangka turut serta melakukan pengembangan dan pembangunan pada kawasan timur Indonesia”, pungkas Edi.

Konferensi yang menghadirkan pembicara dari perwakilan pemerintah dan praktisi, akan diakhiri dengan kunjungan lapangan ke Terminal Teluk Lamong, melihat Pelabuhan dengan konsep go green dan semi otomatis pertama di Indonesia dan Java Integrated Industrial and port Estate (JIIPE) yang merupakan sebuah kawasan industri pertama yang terintegrasi dengan pelabuhan, diharapkan akan dapat menjadi sarana benchmarking bagi para peserta.

(Icsan)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY