Aksi Penyamaran Wartawan, Bongkar Praktik Aborsi Dan Penjualan Bayi

0
299

YOGYAKARTA –Zonadinamika.com. Wartawan terkadang di sebut sebagai detektif swasta, banyak pelanggaran hukum yang tidak tercium penengak hukum, namun wartawan sukses mengungkapnya lalu, Wartawan banyak pihak menyebut, membuka yang tersembunyi.

Tak sedikit pula pihak-pihak tidak berkenan atas kehadiran wartawan, itu bagi mereka yang tidak mau terbongkar kebobobrokanya pada public. Pangeran Bonafarte perna mengatakan “Saya lebih takut pada satu orang wartawan dari pada seribu tentara”.

Dalam Temu Nasional Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) 2016 yang digelar selama tiga hari di Yogyakarta, 30 Mei-1 Juni 2016.
Kisah pengalaman wartawan menyamar untuk membongkar praktik aborsi dan penjualan bayi di Sulut membuat peserta PUSPA 2016 merinding.

Sebelumnya panitia telah memilih 50 inspirator dari sekitar 400 peserta untuk diberi kesempatan berbicara tentang pengalaman mereka menginsirasi Indonesia.
Sulawesi Utara sendiri terpilih satu peserta, yaitu Fransiska Noel, jurnalis Harian Tribun Manado. Pengalamannya turun dalam misi investigasi dan penyamaran untuk membongkar praktik aborsi dan penjualan bayi yang sudah berlangsung puluhan tahun di Sulut benar-benar membuat peserta ‘merinding’.

Penyamaran berani itu terjadi pada bulan Mei 2011 yang berhasil mengungkap malapraktik aborsi serta sindikat penjualan bayi yang melibatkan seorang dokter, pemilik sebuah klinik di Paal 2 Manado.

Saat masuk klinik, pasien yang menyamar langsung disambut ramah seorang wanita. Ia resepsionis klinik. Selanjutnya ia menanyakan keperluan keperluan pasien. Ia membuka laci meja, entah mencari apa, tapi menutup kembali.

Saat tahu pasien ingin melakukan aborsi, resepsionis tersebut menelepon dokter Elizabeth. Pasien wanita kemudian dipanggil untuk berbicara langsung dengan dokter. Saat itu dokter menanyakan keperluan pasien “Kenapa, apakah sudah terlambat? Apakah cuma mau datang kontrol atau apa?”, tanya dokter.

Pasien meminta ingin berbicara langsung dengan dokter dengan alasan urusan penting. Dokter langsung menjawab, “”Oh, apakah mau kasih keluar, tidak mau pelihara anaknya yah? Kalau iya saya akan langsung pulang ke klinik,” tanya dokter bersemangat. Si pasien mengiyakan.

Menunggu kedatangan dokter adalah masa yang menegangkan. Sekitar 20 menit kemudian sebuah mobil sedan masuk. “Itu dokter so tiba,” ujar Yl. Pintu mobil terbuka dan dokter langsung bertanya, “Mana pasiennya?” Pertanyaan basa-basi, karena saat itu hanya ada satu perempuan saja di ruangan. Ia tersenyum, ia berbicara tenang, suaranya ramah. “Mari kita periksa dulu,”. ujarnya.

Kemudian pasangan pasien dan dokter masuk ke dalam ruangan, tempat aborsi dilakukan. Ada bau obat bercampur sedikit bau anyir darah. Ruangan sangat kotor, bantal, selimut, dan kasur di atas bangsal sudah kumal. Setelah pembicaraan harga dan tawar menawar, dokter kemudian meminta stafnya untuk menyiapkan kamar dan alat-alat yang akan digunakannya untuk aborsi. “Tidak lama hanya berkisar tiga menit . Jangan takut, nyanda sakit,” kata dokter lalu bersiap berdiri mengajak pasien ke kamar operasi.

Tapi sayang, beberapa detik kemudian sekitar delapan orang pria merangsek masuk. “Selamat sore ibu, kami anggota kepolisian dari Polda Sulut. Kami membawa surat perintah pemeriksaan, tolong dibantu,” ujar seorang petugas polisi
Secara keseluruhan ada tiga kalimat penting yang menjadi inti dari seluruh rangkaian acara Temu Nasional PUSPA 2016 yang digelar selama tiga hari di Yogyakarta.

Acara yang diprakarsai Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI ini mengundang lebih sekitar 400 peserta dari berbagai kalangan dari seluruh Indonesia, seperti LSM, tokoh agama, unit kerja KP3A di tiap daerah, tokoh masyarakat, hingga insan pers.

Tiga kalimat menggugah Indonesia itu diberi nama ‘Three Ends’ yaitu Akhiri Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, Akhiri Perdagangan Manusia, Akhiri Kesenjangan Ekonomi Antara Laki-laki dan Perempuan.

Hari pertama gelaran acara ini menghadirkan sejumlah Inspirator yang dianggap berhasil menginsprasi Indonesia melalui tiga ‘Akhiri’ ini.
Peserta begitu antusias mendengar bagaimana pengalaman para Inspirator dari beberapa wilayah di Indonesia telah mengerjakan banyak hal yang kreatif dan mendobrak.

Selain menghadirkan sejumlah Inspirator luar biasa, acara di hari pertama juga menghadirkan 50 inspirator yang telah diseleksi dan berhasil terpilih dari peserta.

50 inspirator ini diberi kesempatan untuk berbicara tentang pengalaman mereka menginsirasi Indonesia.
Mereka membagikan pengalaman mengesankan dalam format presentasi yang simple, sistematis, dan menginsprasi dalam sesi yang diebut Pecha Kucha.

Setiap pengalaman yang disajikan setiap inspirator sangat tekait dengan tiga program unggulan Kementrian P3A ini.

Temu nasional ini menjadi begitu kaya dan berwarna karena banyak diisi dengan sharing pengalaman dan keberhasilan setiap daerah di Indonesia untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, mengkhiri perdagangan manusia, dan mengakhiri kesenjangan ekonomi pada perempuan.

Outputnya, semua daerah akan termotivasi, terinspirasi, dan akhirnya bersama untuk berkomitmen untuk menggaungkan ‘Tiga Akhiri’ ini menjadi semangat bersama untuk membawa perempuan dan anak Indonesia pada kehidupan yang lebih baik.

(sumber:Tribun Manado)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY