Sosok Kompol Achmad Gusti Hartono SIk Yang Ditugaskan Belajar di Sespim Polri

PEKAN BARU – SIAK, Zonadinamika.com- Karier Kompol Achmad Gusti Hartono, SIK, meloncak di usia 35 tahun, dan cukup mentereng. Kini Ia mendapatkan tugas menjalani pendidikan Sekolah Staf Pimpiman (Sespim) angkatan 56 tahun 2016, sekolah strategis bagi polisi menunjang karier di masa depan.

Kompol Achmad Gusti Hartono sendiri, baru-baru ini menyelesaikan tugas sebagai Kapolsek Tualang, Kabupaten Siak, Riau. Meski hanya 1 tahun 1 bulan bertugas di daerah ini, masyarakat kota terpadat penduduk di Kabupaten Siak sangat menyukai dirinya.

Di samping mampu menjalankan tugas dengan baik, dalam pergaulan sehari-hari disukai masyarakat, mudah senyum, supel bergaul, ditambah lagi paras wajahnya yang tampan.

Gusti panggilan sehari-hari dilahirkan tanggal 21 Agustus 1981 lalu di Palembang. Lulus Akademi Kepolisian tahun 2002 ini memulai karier di Provinsi Kalimantan Timur. Jabatan pertama dipegang sebagai Wakil Kepala (Waka) SPK Poltabes Samarinda. Karena kinerja bagus, maka dinaikkan jabatan satu tingkat menjadi Kepala SPK Poltabes Samarinda.

Setelah menggeluti bidang pelayanan, Ia ditugaskan sebagai Kasubnit Reskrim Polsekta Samarinda Ilir. Karier dijajaran Reskrim terus meningkat, setelah diangkat menjadi Kanit Reskrim Polsek Palaran, Kanit Reskrim KPPP hingga menjadi Wakapolsek Samarinda Seberang. Kemudian bertugas Panit Tipiter Ditreskrim Polda Kaltim.

Setelah mengabdi kepada masyarakat selama lima tahun. Pada tahun 2007, ia mengikuti Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian-Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) di Jakarta selama setahun.

Usai meraih gelar SIK, penempatan kedua di Kalimantan Barat dengan jabatan Panit Idik Ditresnarkoba Polda Kalbar. Kapolsek Sungai Raya Polres Bengkayang,Kasat Reskrim Polres Bengkayang. Kasat Reskrim Polres Singkawang.

Atas kinerjanya, Gusti tidak hanya dibutuhkan memberikan pelayanan, pengayoman dan perlindungan bagi masyarakat, tetapi memberikan kontribusi bagi peningkatkan kemampuan sumber daya manusia Polri. Iapun ditunjuk sebagai Pengasuh Taruna Akademi Kepolisian di Semarang, Jawa Tengah tahun 2010 hingga 2012 dengan jabatan Kasat Taruna Detasemen 45 Akpol Lemdikpol, kembali ditugaskan melayani masyarakat.

Ia ditempatkan di Polda Riau menjadi Kasat Resnarkoba Polres Dumai, Kapolsek Dumai Barat dan Kapolsek Tualang Polres Siak. Kariernya, diprediksi akan semakin cemerlang, karena ditugaskan mengikuti Pendidikan Sespimmen Polri angkatan 56 di Lembang, Jawa Barat.

Kiprah anak keempat dari pasangan H. Amir Hamzah dan Hj. Zuronani ini memegang jabatan strategis di jajaran Polres beberapa wilayah di Indonesia tentu tidak terlepas kompetensi dirinya.

Namun sejak bertugas 2012 sampai 2016, ayah dua anak ini, merasa nyaman dan mendapatkan pengalaman berkesan di Polsek Tualang. Sebagai pimpinan se-tingkat Polsek, tentu berbagai persoalan kriminal yang dihadapi.

Apalagi Polsek Tualang merupakan Polsek dengan angka kriminal tertinggi di Kabupaten Siak. Namun atas kepemimpinan, arahan pimpinan, dukungan anggota dan kerjasama masyarakat berbagai persoalan kriminal di tengah masyarakat bisa diatasi.

Ada dua kasus di daerah yang dikenal dengan kota Industri ini yang berkesan bagi dirinya. Betapa tidak, partisifasi masyarakat dibutuhkan membantu tugas kepolisian. Pertama, saat mengungkap kasus pembunuhan di Pinang Sebatang Timur, jajaran Polsek Tualang bekerja siang malam melakukan penyelidikan, mencari info ke mana-mana, namun tiba-tiba datang seorang warga memberikan informasi identitas pelaku. Sehingga, kasus tersebut terungkap dan pelakunya pun ditangkap.

“Kami bekerja dari siang malam, mencari info ke mana-mana. Tiba-tiba datang warga membantu polisi, saya sudah tahu pembunuhnya katanya, polisi bergerak menangkap pelaku. Informasi lima menit dari warga lebih berharap daripada penyelidikan selama siang malam,” kata dia.

Kemudian pembunuhan di Jalan Pipa Pinang Sebatang, ratusan masyarakat mendatangi kantor, mendesak Polsek menangkap pelaku. Sebab, saat itu tudingan masyarakat mengarah kepada suku tertentu.

Melihat tuntutan ratusan, bahkan ribuan warga, dirinya hampir down menghadapinya. Namun di tengah situasi genting, datang satu per satu tokoh masyarakat Tualang membantu menenangkan massa dan memberikan semangat. Sehingga, situasi aman terkendali. Tokoh masyarakat lintas suku itu, juga turut melindungi suku tertentu yang dituding pelaku pembunuhan. Tak berapa lama setelah itu, kasus pembunuhan terungkap. Pelakunya ternyata bukan dari etnis seperti tudingkan warga.

“Hikmahnya walaupun berbeda-beda (heterogen), ternyata sanggup menyatu untuk satu tujuan, menuju Tualang aman dan damai,” sebut dia, menggambarkan betapa pentingnya peran masyarakat mendukung kinerja polisi.

Ayah dari Kayla Amitaazura dan Ahmad Umar Khalid Wicaksana, dalam menjalankan tugas memegang prinsip, tugas Polisi berada di antara koridor moral dan hukum, moral Polisi harus kuat, hukum harus dikuasai dan banyak meminta petunjuk kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan dalam menjalankan amanah sebagai seorang Polisi.

Kesuksesan suami dari Irene Paramitha memimpin wilayah memakai kiat-kiat, pertama, menjalin silaturahmi dengan masyarakat dengan niat tulus ikhlas, kedua, satukan tujuan bersama, Polri dan masyarakat. Ketiga, Polri harus dirasakan kehadirannya oleh masyarakat dibutuhkan partisifasinya.

Anak keempat dari enam bersaudara ini, dikenal juga sangat dekat dengan bawahan. Ia selalu memberikan arahan dan pembinaan agar polisi memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Selama 1 tahun 1 bulan bertugas di Mapolsek Tualang, beliau memberi banyak arahan dan bimbingan, sehingga tugas berjalan baik. Kami mendoakan mengikuti Sespimen Bandung Jawa Barat berjalan dengan baik,” tutur Kanit Intel Polsek Tualang AKP Banjar Nahor menceritakan sosok Gusti Hartono.

Kepemimpinan Gusti, juga diakui unsur pimpinan Kecamatan Tualang lainnya. Setiap ada persoalan di tengah masyarakat selalu berkoordinasi dengan Upika dan tokoh masyarakat. Apalagi dalam pergaulan sehari-hari mudah senyum.

“Terus terang melihat sosok supel, ramah, mudah senyum, tidak begitu kelihatan polisi, tak menakukkan disukai masyarakat. Kerjasama dengan Upika, baik koordinasi cepat main BBM,dan WA,” sebut kata Camat Tualang Zulkifli, ditanya sosok Gusti.

Menurutnya, masyarakat Tualang merasa kehilangan sosok Gusti, karena selama memimpin 1 tahun 1 bulan beberapa kebijakan berhasil baik, dan mengharumkan Kecamatan Tualang. Di antaranya, situasi kamtibmas kondusif, Saka Bayangkara Pramuka terbaik tingkat Kabupaten Siak, ada car free day dan ditetapkan Kampung Tualang Desa Pelopor Tertib Lalulintas di Kabupaten Siak.

“Masyarakat Tualang heterogen memiliki tantangan sulit. Kami merasa kehilangan sosok Achmad Gusti. Namun jabatan merupakan amanah, suatu waktu bisa mutasi, sesuai dengan kebutuhan pelayanan masyarakat. Kami doakan semoga semakin sukses kembali ke Siak harapan kami bukan jadi Kapolsek tetapi Kapolres,” harap Zulkifli.( Aroy Halawa)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan