Romo Ino : Berkhotbah Lewat Pena

0
489

Atambua – Zonadinamika.com, Suara dari Batas, itulah sekilas judul buku Karya Romo Inosensius Nahak Imam dari Paroki Nualain, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur, resmi dibedah dan dilaunching. Sabtu, 28/11/15.

Buku tersebut merupakan pokok pikiran, inspirasi dari biarawan yang prihatin akan kondisi masyarakat Kabupaten Belu khususnya yang berada di daerah batas antara Republik Indonesia dan Republic Demokratic Timor Leste.

Romo Inosensius Nahak, sosok yang elegan, tangguh dalam pendirian telah menggoreskan tulisan-tulisan kritik yang bernuasa religius, ternyata mampu menggugah pembaca untuk lebih jeli melihat persoalan sosial yang tengah menimpa Kabupaten Belu.

Dalam bukunya “Suara dari Batas” Romo Ino nahak merasa senang dengan tanggapan dari pembaca yang semakin kritis untuk lebih lagi memilih dan berpihak kepada masyarakat yang masuk dalam situasi yang abstrak untuk melihat lebih dalam makna sesungguhnya dari kegelisahan orang-orang kecil di zaman yang serba modern ini.

Robertus Fahik salah satu Jurnalis dan Penyunting Majalah Pendidikan Cakrawala NTT selaku pembedah buku ini, memberi aspresiasi kepada Romo Ino Nahak dengan memberi sebuah catatan kecil “Romo Ino : Berkhotbah lewat pena”.

“dalam buku tersebut penulis mengambil dari beberapa tokoh inspiratif yakni ; Soekarno, Ahok, Jokowi, Mahatma Gandhi, Sinterklas dan W.S. Rendra dan tokoh-tokoh lainnya.” Tutur Roby.

Menurut Roby, dalam buku tersebut penulis menggoreskan hal-hal yang berkaitan dengan keadaan masyarakat Kabupaten Belu mengenai tambang mangan, kekeringan, dan masalah sosial lainnya yang ada di perbatasan.

Dalam tulisan ini Roby mengisahkan rekam jejak dari tulisan dari Romo Ino memiliki pengaruh filsafat yang sangat kuat dan terdapat masalah sosial, mengenai korupsi, kritik terhadap DPRD dan masalah lainnya.

Dalam tulisan buku ini menurut Roby, terdapat aforisme atau pernyataan yg padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum seperti peribahasa : “Alah bisa karena biasa.”

Robby menuturkan bahwa Romo Ino menulis tentang nuansa Politik, Humaniora dan Spiritual.

Romo Siktus Bere, Guru dari Seminari Lalian, membedah isi perut dari buku suara dari batas, menurutnya tulisan ini menunjukkan keberanian mengambil resiko selain itu juga suara dari batas adalah suara keheningan sebab menurut romo bahwa penulis lewat keheningan bisa memecahkan masalah yang kompleks.

Romo Siktus juga mengatakan bahwa ia menggunakan teori Filsuf Hegel untuk memahami buku ini dan mulai membedah dan melihat secara dalam.
“Buku ini menurut hemat saya bahwa hanya ada satu kekhawatiran dari penulis yakni Ketidakadilan.” Jelas Romo Siktus.

Dalam buku ini, lanjut romo siktus bahwa terdapat nilai kebebasan yakni positif bukan kebebasan untuk menekan orang lain.
“Ada nilai politisnya, juga landasan etis atau perlakuan manusia sebagai manusia dan bukan sebaliknya.” Pungkasnya. (Nus Feka).

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY