Renung Relung Derita Kita

0
443
Ketua umum KNPB, Victor F. Yeimo. (Ist)

Semarang.Zonadinamika.com. Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Victor Yeimo menegaskan kepada orang Papua, Tidak perlu heran dan bersedih bila pembantaian harus terus terjadi. Sadari saja diri kita sebagai bangsa yang sedang terkoloni. Adalah keharusan bagi kolonial untuk menjalankan sistem dan praktek kolonialisme diatas wilayah koloninya. Jangan berharap keadilan dalam hukum kolonial, sebab kolonialisme hanya bertujuan untuk memusnahkan manusia dan menguasai wilayahnya.

“2 orang pelajar yang ditembak di Timika, Kemarin (28/09/2015) oleh polisi kolonial Indonesia adalah satu bagian terkecil dari operasi pembantaian yang sedang terjadi. Lihatlah hampir 5 hingga 10 mayat anak negeri setiap hari keluar dari Rumah-rumah sakit yang ada di Papua; Hitunglah berapa mayat yang mati misterius di mana-mana tanpa diketahui setiap hari; tengoklah berapa kematian ibu hamil dan bayi di Rumah-rumah sakit itu; Bertanyalah mengapa banyak anak negeri yang mandul dan tak bisa memperbanyak generasi Papua; Sudahkah anda tahu bahwa kapal putih yang masuk 3 kali seminggu memuntahkan 2000 pendatang setiap kapalnya”. tulis Victor Yeimo melalui akun media sosial Facebook , Kamis (30/09/2015).

Kata Yeimo, Sudahlah, terlalu banyak penderitaan yang harus diurai. Apakah memang kita tercipta diatas tanah ini untuk hidup menangisi penderitaan, Bukankah anda pun tahu bahwa hukum kolonial, media colonial dan semua perangkat kolonial tidak akan berpihak pada tangis penderitaan kita Lantas, sampai kapan kita terus berdiam diri sambil terhanyut hingga pada muara pemusnahan Bila begitu, senang-senanglah, hibur-hiburlah, puas-puaskan sajalah diri anda terus-menerus dalam kenikmatan sesaat yang disugukan kolonial padamu, sebelum sampai di muara itu.

“Dan kami disini, di jalur yang setiap hari kau takuti, yang kau asingkan, yang kau lupakan, yang kau malas tahu, yang kau caci maki, yang kau hina, dan yang kau khianati akan berdiri, berjejer mengepal tangan perlawanan. Bagi kami, itulah jalur utama, bukan alternatif, untuk membebaskan bangsa ini. Perlawanan melawan kolonialisme Indonesia adalah satu-satunya cara kita untuk menghapus penderitaan ini. Hari ini kami tidak butuh tangis pilu anda, berapun banyaknya. Simpan saja jauh-jauh. Dunia pun tak akan peduli, apalagi kami. Yang kami butuh jiwa pemberontakan anda di arena perlawanan yang sedang bergulir; yang kami butuh dan hormati adalah perderitaan bersama di jalur perjuangan ini” tambah Yeimo

Sadarilah kita adalah generasi perjuangan bukan bukan generasi penikmat untukmu rakyat yang terus mati dibantai oleh kolonial Indonesia, diatas pusara dan tulang-belulangmu yang berserakah, kaki kami akan terus berdiri kokoh dan melangkah maju merebut cita-cita pembebasan bangsa: revolusi” Ujarnya.
Untuk diketahu penemembakan di Timika menewaskan , Kalep Zera Bagau (18), laki-laki, agama Kristen Protestan, Siswa SMK Petra Timika Papua dari suku Moni, Papua. Dan korban yang luka dan kritis Efrando I.S. Sabarofek (17), laki-laki, agama Kristen Protestan, siswa SMK Petra Timika, Papua dari suku Biak.

( Bernardo Boma).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here