Polda Jatim Tarik Kasus Aktifis Salim Kancil

0
601

SURABAYA – Zonadinamika.com-Peristiwa pembunuhan sadis Salim Kancil, aktivis penolak tambang ilegal di Desa Selok Awar-awar, Pasirian, Lumajang, memantik reaksi dari Presiden Jokowi. Polda Jatim merespons itu dengan menarik pengusutan kasus ini dari Polres Lumajang. Para tersangka rencananya ditahan di Mapolda, Rabu (30/9/2015) besok.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol RP Argo Yuwono menuturkan, peristiwa berdarah tersebut menjadi perhatian serius aparat kepolisian. Bukan hanya Kapolri, namun Presiden Jokowi juga mengeluarkan perintah agar kepolisian mengusut tuntas kasus ini sampai ke akar-akarnya. “Kami serius sekali menangani kasus ini dan akan diusut sampai tuntas,” katanya di Mapolda Jatim, Selasa (29/9/2015) sore.

Argo mengatakan, penanganan kasus ini diputuskan untuk ditarik dari Polres Lumajang ke Polda Jatim. Polda akan membentuk tim penyidik khusus di bawah koordinasi Direktorat Reserse Kriminal Umum. Tidak hanya dari Polda, penyidik juga akan diambil dari Polres-polres samping untuk diperbantukan. “Masih dibicarakan, nanti akan dipilih jika perlu memperbantukan penyidik dari polres,” ucapnya.

Karena disidik di Polda, secara otomatis para tersangka akan ditahan di Mapolda Jatim. Kemarin, lanjut Argo, pemindahan para tersangka sudah dipersiapkan di Mapolres Lumajang. Pemindahan dilakukan dengan pengawalan ketat. Tahanan diperkirakan sampai di Surabaya hari ini. “Besok pagi (30/9/2015) kira-kira tahanan sampai polda,” ucapnya.

Sampai sore kemarin, jumlah tersangka kasus ini bertambah jadi 22 orang. 20 tersangka ditahan, sementara dua tersangka lain dikenakan wajib lapor karena di bawah umur. 22 tersangka itu memiliki peran berbeda-beda. 14 tersangka dijerat dengan Pasal 340 Jo Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dan 6 tersangka dijerat Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan. “Dua tersangka dikenai pasal kedua-duanya,” jelas Argo.

Terkait dugaan keterlibatan Kepala Desa Selok Awar-awar yang disebut-sebut sebagai dalang aksi barbarian yang menewaskan Salim, sementara ini belum ditemukan petunjuk apapun. Kata dia, tidak satu pun keterangan saksi maupun tersangka menyebut nama Kades Selok Awar-awar sebagai pihak yang memerintahkan pengeroyokan. Tidak ditemukan alat bukti, seperti perintah kades melalui SMS ke tersangka. “Tapi masih didalami. Besar kemungkinan tersangka bertambah,” tegasnya.

Argo juga menjelaskan kepolisian juga melakukan pemetaan area tambang berdarah tersebut. Itu dilakukan sebagai bagian dari upaya penutupan tambang sebagai penyebab terjadinya konflik. Berdasarkan data diperoleh, Argo menyebut di Pasirian ada 76 lokasi tambang. 40 lokasi memiliki izin, 30 lokasi izinnya mati, dan 6 lokasi tambang beroperasi tanpa izin alias ilegal. “Tambang yang jadi kasus ini masuk yang ilegal,” jelasnya.

(Dedy Kurniawan)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY