Bank Indonesia Titip Rupiah di Titik Terdepan NKRI.

0
48

ATAMBUA, TASIFETO TIMUR, NTT-Zonadinamika.com, Bank Indonesia (BI) wajib mendukung upaya Pemerintah dengan menitipkan rupiah di titik- titik terdepan wilayah NKRI, sehingga tidak ada lagi transaksi menggunakan valuta asing di wilayah ini dan hanya rupiah yang beredar.

BI berkomitmen untuk menyediakan rupiah dengan kualitas yang baik di daerah 3T (terpencil, terluar dan terdepan), selain itu hanya Rupiah yang berjalan di wilayah Republik Indonesia. Demikian penegasan Deputi Bank Indonesia, Sugeng di acara Peresmian Pilot Project BI Jangkau Kecamatan/Desa di PLBN Motaain, Belu, NTT. Jumad (21/7).

Sambungnya, terpilihnya lokasi perbatasan Motaain, Belu, NTT sebagai lokasi Pilot Project BI Jangkau, menurut Sugeng sejalan dengan program Pemerintah yang gencar memperbaiki wajah terdepan dari wilayah perbatasan dengan membangun Pos Lintas Batas Negara. Hal ini di yakini dapat menunjukkan kedaulatan juga dapat menggerakan aktivitas ekonomi di wilayah perbatasan.

Dijelaskan pula, Pilot Project ini sangat penting sekali dan mempunyai suatu arti strategis bagi Republik Indonesia. Tujuan peluncuran Pilot Project BI Jangkau adalah untuk meningkatkan perluasan jangkauan distribusi uang dan layanan kas BI hingga mencapai area desa yang selama ini sulit mendapatkan uang dengan kualitas yang baik.

“Dengan BI jangkau, kita ingin menunjukkan bahwa kedaulatan negeri ini ada disini. Kita juga ingin menunjukkan kepada dunia luar bahwa, Indonesia eksis terbukti dengan rupiah yang beredar di perbatasan. Kita tidak ingin mengulangi hilangnya Pulau Sipadan, karena gara-gara tidak beredarnya uang Rupiah di pulau tersebut, sehingga kita kalah dan pulau tersebut terlepas dari kita,” ungkap Deputi Bank Indonesia, Sugeng di acara Peresmian Pilot Project BI Jangkau Kecamatan/Desa di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Motaain, Belu, NTT.

Diungkapkan pula bahwa, Presiden Jokowi sudah membangun perbatasan dengan bangunan-bangunan yang merepresentasikan bahwa Indonesia adalah negara kuat dan besar.
“Salah satu bukti bahwa kita adalah negara besar itu dengan bergabungnya Indonesia di Anggota G20 (Group of Twenty), kelompok negara-negara ekonomi terbesar.

Baru saja usai Presiden menghadiri KTT negara-negara G20 di Hamburg Jerman dan itu menunjukkan bahwa kita memang negara besar. Kalau Pemerintah sudah membangun fasilitas fisik yang bagus, kita harus menunjukkan kedaulatan negeri ini bahwa keberadaan disini harus terisi dengan beredarnya uang rupiah di negeri ini,” jelas Deputi BI.

Tambah dia, sebagai warga negara, kita harus memiliki Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya Bank Indonesia yang peduli, ujarnya bahwa, pihak BI sangat berterima kasih kepada Bank Himbara dan Bank NTT, juga proficiat kepada PT. Pegadean yang baru pertama kali masuk di program penukaran uang.

Selain itu, Deputi BI juga mengakui, keterpilihan NTT sebagai lokasi peresmian BI jangkau merupakan project pertama yang lebih memperioritaskan keistimewaan dari beberapa provinsi lain di Indonesia, karena NTT memiliki 3 lokasi PLBN, yakni PLBN Motaain (Kabupaten Belu), PLBN Motamasin (Kabupaten Malaka) dan PLBN Wini (Kabupaten Timor Tengah Utara).

“Penyediaan progres juga tentunya akan dioptimalkan di kota lain nantinya. Berikutnya BI akan memfasilitasinya pengedaran uang di Motamasin dan Wini. Kita tidak melupakan, kedua kota tersebut menunggu giliran berikutnya,” ucap Sugeng.

Tahun 2017 ini Pilot Project BI jangkau akan dilakukan di 8 (delapan) Provinsi yakni Provinsi NTT, Papua, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau dan Provinsi Jawa Timur.

“Pemilihan daerah pilot project berdasarkan kriteria tertentu di antaranya adalah terpencil dan ada kaitannya dengan perbatasan. BI akan terus senantiasa berkomitmen untuk terus membantu perkembangan daerah-daerah dan ini sejalan dengan visi dari pada Pemerintah membangun dari daerah pinggiran. (Setdabelu/Yulianus F.)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY