Ulu Emanuel; Teknologi Harus diolah Sesuai Kebutuhan, Sosialisasi harus dimulai dari Tingkat Bawah.

0
402

ATAMBUA, NTT-Zonadinamika.com, Training Of Traning yang bertujuan melatih pendamping korban KDRT dan kekerasan terhadap anak juga sebagai wadah membentuk kader konselor yang tanggap terhadap perilaku kekerasan dilingkungan sekitar,” Kata Ulu Emanuel Asisten III Setda Belu saat diwawancarai zonadinamika, Kamis, 26/5/2016 di Hotel Permata Atambua saat pelatihan pendamping korban KDRT dan kekerasan terhadap anak.

Ulu Emanuel menyampaikan bahwa Pelatihan Pelatih (Training of Trainer) merupakan kegiatan yang sangat penting sesuai dengan keadaan yang sedang negara ini resahkan yaitu; kekerasan terhadap perempuan dan anak terutama kekerasan seksual terhadap anak.

“Dan kegiatan ini adalah kegiatan pelatihan bagi para pelatih untuk mendampingi korban-korban kekerasan dalam rumah tangga dan korban kekerasan terhadap anak,” ungkap Ulu.

Saat ini, Lanjut Ulu, kalau kita melihat trend yang berkembang di Kabupaten Belu, kekerasan dalam rumah tangga makin meningkat bukan makin menurun, ada 188 kasus korban kekerasan, dari 188 kasus korban kekerasan justru kekerasan terhadap perempuan justru menduduki peringkat tertinggi diatas 100 yakni 103 kasus dan sudah merupakan critical point dan kita sudah harus bertanya “ada apa sebetulnya itu dengan kabupaten belu yang kecil ini, tetapi justru korban kekerasan terhadap perempuan meningkat diatas 100 dan kekerasan terhadap anak sudah mendekati 100 diposisi 88 kasus sekarang.

“Inikan menjadi tanda tanya, apa yang sebetulnya terjadi, apakah salah pemerintah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah itu salah ataukah salah orang tua, salah keluarga, salah masyarakat, salah lingkungan dan inilah yang menjadi tanda tanya,” Ucapnya.

Asisten III juga menyatakan bahwa, kalau kita mau melihat secara nasional, kekerasan terhadap perempuan dan anak ini, juga sekarang sudah menjadi “Bencana Nasional” yang oleh Presiden itu akhirnya diambil langkah hukum yang tegas bagi para pelaku korban kekerasan khususnya pelecehan seksual terhadap anak harus diterapkan hukuman kebiri, karena kalau tidak ditangani akan merusak generasi kedepan.

“Dan ini sudah sesuatu yang meresahkan, dan menurut presiden bahwa kalau ini tidak ditangani secara tegas, ini menjadi bencana nasional bencana yang nantinya akan merusak generasi, jadi nanti generasi ini akan hilang hanya gara-gara karena kekerasan terhadap anak-anak terutama kekerasan seksual,” Serunya.

Ulu pun menjelaskan, bahwa pelatihan yang dilakukan ini memiliki peranan yang strategis untuk kabupaten ini karena kita membutuhkan pendamping-pendamping sebab kalau hal seperti ini hanya ditangani oleh mereka yang ditugaskan untuk itu misalnya badan pemberdayaan perempuan dan Keluarga Berencana yang harus bertanggungjawab, jadi apakah mereka mampu?, Jadi ini harus semua sektor harus semua stakeholder harus bertanggungjawab terhadap masalah ini, karena bila tidak maka kedepan kabupaten ini akan mendapatkan predikat yang jelek karena Belu terletak didaerah perbatasan kekerasan terhadap perempuandan anak itu kasusnya terus meningkat jadi menjadi sesuatu hal yang nantinya akan menimbulkan harga diri kita tertindas.

“sebab bagaimana kita mau mengurus pembangunan, kalau masalah ini tidak dibereskan.
Jadi para pelatih tentu akan memberikan petunjuk teknis apa yang harus dilakukan kalau menemui kasus-kasus korban kekerasan terhadap perempuan dan anak dilingkungan dimana mereka tinggal.

Jadi pelatihan pelatih ini bukan mereka bekerja mau dipanggil dulu tetapi bertanggungjawab terhadap lingkunganya karena dia sudah memperoleh rambu-rambu pelatihan ini maka ketika dia menemukan hal-hal berkaitan terhadap kekerasan perempuan dan anak, ia diharapkan mendampingi mendatangi keluarga itu kemudian memberikan peneguhan memberikan motivasi supaya jangan sampai masalah ini terulang terus menerus,” jelasnya.

Sebetulnya Perda terhadap kekerasan perempuan dan anak dan KDRT itu sudah ada, hanya menurut saya perda itu masih tetap belum berjalan dengan baik karena keterlibatan stakeholder ditingkat paling bawah RT, RW, Kelurahan, Kecamatan itu mereka mungkin belum memahami dengan baik apa yang harus dilakukan karena mungkin masih kurangnya sosialisasi.

Karena itu, saya berpikir bahwa perda ini harus ditindaklanjuti dengan mengumpulkan masyarakat, jadi ditingkat RT, RW ini diinventarisir siapa yang bisa diberi kepercayaan untuk menindaklanjuti apabila menemukan kasus ini terjadi,” Sambung Ulu Emanuel.

Selain Perda, Ulu Emanuel juga melihat dari kacamata pengamat sosial bahwa saat ini kita masih melempar tanggungjawab kepada stakeholder, untuk masalah ini misalnya ada rumah aman lalu kemudian ada pemberdayaan perempuan dan Keluarga Berencana mereka itu yang bertanggungjawab maka itu harus dirubah dan harus dimulai dari rasa keterpanggilan untuk secara bersama-sama mengatasi problem ini menurutnya masih kurang.

“Jadi orang melihat ini merasa bahwa ini bukan tanggungjawab dirinya.,” Sahutnya.

Ulu juga menyebutkan bahwa melihat bahwa masalah PERPU kebiri itu mengapa harus terjadi karena ini sudah keterlaluan karena kita melihat apa yang dilakukan oleh para pelaku itu sudah melampaui batas-batas kewajaran manusia. Kalau ini dibiarkan maka akan meracuni untuk orang-orang lain bahwa dia juga ingin mencoba melakukan itu, akhirnya rusaklah kita,” Bebernya.

Solusi yang diberikan melalui hukuman kebiri ini harus dilakukan karena supaya generasi ini harus diselamatkan, selain itu solusi lain dari Ulu Emanuel bahwa pertama, adanya himbauan yang harus disampaikan kepada masyarakat bahwa masyarakat harus bisa mengolah informasi teknologi secara baik, jadi jangan diperbudak oleh teknologi dalam arti bahwa teknologi informasi yang kita peroleh lewat HP, internet jangan sampai menjadi racun untuk mengorbankan orang lain karena itu manfaatkanlah teknologi informasi itu sesuai dengan kebutuhan.

Kedua, kita harus melakukan pendekatan-pendekatan melalui gereja dalam hal ini bahwa pastor perlu juga mengarahkan umatnya melalui khotbah, rekoleksi, ret-ret atau bahkan pendalaman iman mari coba berusaha supaya dari hal yang berkaitan dengan kekerasan terhadap anak dan KDRT.

Ketiga, dilevel pemerintah perlu menggalakkan sosialisasi dilakukan jangan hanya ditingkat atas saja, yang terpenting itu ditingkat akar rumput, RT, RW, Kepala Desa yang harus digenggam karena Teknologi Informasi ini sudah merebah kedesa sampai ketempat terpencil,” Jelasnya. (Nus Feka)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY