Dilecehkan Oknum Notaris, Polsek Jatinegara Tidak Berkutik Ada Apa?

0
359
itu Stephani Maria Vianney Pangestu, SH.pejabat PPAT/ Notaris dan petugas dari polsek jatinegara

Jakarta-Zonadinamika.com. Stephani Maria Vianney Pangestu, SH.pejabat PPAT/ Notaris yang berkantor Kompleks perkantoran Bonagabe blok A.no.7 Jakarta Timur, saat melakukan mediasi, dengan pihak penerima kuasa dari TJIE WEY KIEN alias LUKMAN selaku pemenang atas perkara sebagaimana putusan perkara dengan Register Perkara No. 74/PDT.G/2015/PN.JKT.UT tanggal 30 Juni 2015.

Stephani Maria Vianney Pangestu, SH yang menguatkan atas utang piutang antara TJIE WEY KIEN dengan SURYADI SUDI GUNAWAN dalam Akta Pengakuan Hutang No.13 tertanggal 24 Juni 2014 dihadapan Notaris Stephani Maria Vianney Pangestu, SH.

Untuk menjamin hutangnya tersebut SURYADI SUDI GUNAWAN memberikan kuasa menjual kepada TJIE WEY KIEN alias LUKMAN atas 2 (dua) buah ruko milik SURYADI SUDI GUNAWAN sebagaimana SHM NO.738/Bidara Cina dan SHM No.739/Bidara Cina di Jl.Otto Iskandar Dinata No.109 Jakarta Timur, dalam surat kuasa menjual tersebut diberikan jual hak kepada TJIE WEY KIEN alias LUKMAN untuk menyewakan kedua ruko tersebut, hal tersebut secara tegas pula dituangkan dalam Akta Kuasa menjual tertanggal yang sama dengan waktu pembuatan akta pengakuan hutang tersebut diatas, juga dibuat dihadapan notaris Stephani Maria Vianney Pangestu, SH.

Tiem kuasa hukum TJIE WEY KIEN alias LUKMAN Gordon Hutapea dan rekan yang berusaha menguasai jaminan tersebut, oleh Stephani Maria Vianney Pangestu, SH, selaku melakukan berbagai macam cara hingga intimidasi terhadap para pengontrak yang di berikan oleh TJIE WEY KIEN pada ruko tersebut.

Kuasa hukum TJIE WEY KIEN Harry Fransiskus Hasugian,SH yang di damping tim media ini ketika hendak melakukan pembongkaran gembok dan pagar yang di pasang oleh Stephani, terlebih dahulu melakukan kordinasi dengan pihak RT/RW dan melayangkan surat pemberitahuan pada polsek Jatinegara.

Bahkan memaksa jualan harus di stop dan meninggalkan ruko dengan batas waktu 20/10, dan bila telat, akan di denda 1 juta/hari.

“Saya di tekan menantangani pernyataan,tanggal 20 harus keluar,bila telat satu hari saja akan di denda 1 juta” kata Bu haji penjual soto.

Stephani Maria Vianney Pangestu, SH, yang bertindak sebagai bak kuasa hukum siluman tersebut, berbagai macam cara melakukan tindakan,atas ketidak mampunya melawan penegakan hukum di pengadilan,yang menghukum dan menegaskan,bahwa akte utang piutang yang di buatkan oleh dirinya sah secara hukum.

Kegaduhanpun hampir terjadi,mengingat laporan Stephani kepada polsek Jatinegara, atas pembongkaran gembok Ruko. Negoisasi antara kuasa hukum dengan tim kuasa hukum TJIE WEY KIEN yang di damping tim redaksi media zonadinamika.com pun memutuskan untuk dilakukan mediasi di kantor polisi resot Jatinegara.

Dengan bukti-bukti berupa dokumen atas perkara yang di menangkan oleh TJIE WEY KIEN,yang di tunjukan pada pihak kepolisian,membuat pihak kepolisian terlihat bingung.

Bahkan ketika seorang penyidik bernama Sinaga saat menanyakan kepada   Stephani, terkait akte perjanjian yang tandatangi, Stephani dengan gaya santai menjawab akan saya cek.

Berikut cuplikan pertanyaan penyidik bernama sinaga pada Stepany:

Sinaga: Apa benar ibu Stepany membuat dan menandatangi akte perjanjian hutang piutang seperti dokumen ini?

Stephani: Saya akan cek dulu.

Sinaga: Apa benar Suryadi Sudi Gunawan pemilik serifikat atas ruko ini?

Stephani: Ya dulu, tapi sekarang sudah di jual pada yang bernama Hilman.

Sinaga: Dimana bukti kepemilikan serifikat atas nama Hilman?

Stephani: Ada di kantor saya pak.

Suasana sedikit memanas saat mediasi, stepany yang selama ini mengaku bahwa ruko tersebut sudah beralih menjadi milik Hilman namun tidak mampu membuktikan dokumen tersebut alias omdo, bahkan desakan Stepany kepada pihak polisi ga usa urusin ini semakin mencurigakan, ada apa dengan oknum polisi?

Merasa terpojok, Stepnay akhirnya meninggalkan ruang Kanit reskrim dengan cara tidak sopan dengan gaya berontok dan terkesan tidak menghargai upaya polisi melakukan mediasi, dan lebih memilih duduk di ruang lain dan meninggalkan ruang kanit yang di pakai untuk mediasi.

Yang menjadi pertanyaan,kenapa pihak kepolisian membiarkan mediasi tersebut, di tinggalkan oleh Stepany dengan tidak sopan? Apakah ada kesepakatan terselubung yang di buat Stepany, sehingga pihak polisi membelahknya walaupun salah? Hanya Tuhan dan Stepany dengan pihak polsek Jatinegara yang tahu.

Sinaga akhirnya menganjurkan pada kuasa Hukum TJIE WEY KIEN agar membawa masalah ke Poda metro.

TJIE WEY KIEN, mengatakan,senin 23/10 akan mendaftarkan sita eksekusi berdasarkan putusan pengadilan yang sudah inkrah.(tim)