Kepsek SMK Pamor Cikampek di Nilai Bohongin Ortu Siswa dan Perankan Hukum Rimba?.

0
321

Karawang-Zonadinamika.com. Bak hukum rimba dan praktek dugaan pungutan liar (Pungli) dalam dunia pendidikan seakan tidak habis-habisnya, dengan berbagai dalil dilakukan oleh sejumlah oknum pendidik demi mendapatka keuntungan dari kebutuhan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya.

Setelah melakukan hukuman wajib membersihkan mushola kepada siswa yang tidak mampu membayar SPP yang nota bene anak yatim,tindakan inipun oleh banyak pihak menilai, bahwa pemaksaan membersihkan mushola selama sekolah karena tidak mampu bayar SPP dinilai tidak manusiawi.

Sejumlah wargnet yang menjikapi akan pemberitaan media ini, berhadap agar tindakan menghukum siswa tersebut segarah di hentikan,karena tindakan tersebut merupakan tindakan dictator yang tidak layak di perankan pada anak siswa.

Dengan dalil mengatasnakan tempat ibadah menghukum siswa merupakan tindakan tercelah yang nota bene bisa mencoreng nama baik sekolah.

Salah seorang guru agama SMK Pamor kepada wartawan mengatakan, bahwaa tindakan tersebut bukan sebagai hukuman, namun hanya sebuah permohonan pada siswa yatim.

“Kami memintah kepada siswa, siapa yang mau bersihin mushola akan mendapatkan bonus” jawab sang guru berkelit. Diperjelas kata bonus  hanya sebuah bahasa pembohongan, guru muda tersebut langsung tidak berkomentar.

Salah seorang Tokoh Agama di Cikampek, ketika di minta komentarnya terkait hukuman yang menimpa  3 siswa SMK Pamor yang tidak mampu bayar SPP dan wajib bersihin mushola selama sekolah, beliau menilai bahwa tindakan tersebut merupakan tindakan yang harus di hentikan karena tidak manusiawi dan jangan sampai seperti hukum rimba.

“Saya beranggapan, hukuman tersebut sangat tidak pantas dilakukan, apalagi bawa- bawa tempat ibadah, tindakan tersebut adalah tindakan tidak manusiawi atau tidak menunjukkan seorang pendidik, apalagi korban berupakan anak yatim dan sudah tidak sesuai dengan nama sekolah panca moral” Tegasnya.

Seraya menambahkan, saat ini pemerintah sangat mempermudah pada anak bangsa untuk bisa sekolah, tinggal niat anak, pemerintah sudah menyiapkan, baik itu BOS Pusat, BOS Provinsi dan BOS Kabupaten, jadi tidak ada alasan pihak sekolah melakukan pemaksaan siswa untuk pembayaran macam-macam.

Sementara sejumlah orang tua siswa yang berhasil di konfirmasi mengenai kewajiban siswa bersekolah di SMK Pamor, mengatakan, bahwa orang tua siswa masih wajib bayar SPP dan uang pembangunan, dan ditegaskan,sebuah kebohongan yang di sampaikan  Budi Endarto,S.Pd, MM selaku kepala sekolah bila dikatakan tidak ada uang pembangunan.

“Ya kita bayar SPP, uang praktek, OSIS dan uang pembangunan diatas satu jutaan/siswa dan macam-macam lagi, kalau Kepsek mengatakan tidak ada uang pembanguna,itu adalah kebohongan besar, Tidak pernah pihak sekolah mengatakan uang pangkal, adanya uang pembangunan, mungkin untuk mengaburkan,pihak sekolah menulis UP di kwitansi, uang pangkal dari mana, wong kami bayar semua,kalau itu uang pangkal berarti orang tua tidak perlu tiap bulan bayar SPP, karena adanya uang pangkal tersebut, toh juga tiap bulan bayar juga yang lain-lainya” papar orang tua siswa yang enggan di sebut namanya.

Kepala Sekolah SMK Pamor Cikampek Budi Endarto,S.Pd, MM didampingi tiga orang guru ketika di klarifikasi di ruang kerjanya 12/10, mengatakan, terkait siswa yatim yang diwajibkan membersihkan mushola,hal tersebut bukan suatu kewajiban, namun itu hanya kebijakan siswa, apalagi anak siswa yang di paksa bayar dan tetap dihukum membersihkan mushola,itu  hanya karena misscomunikasi antara orang tua siswa dengan guru.

“Saya sudah dengar kabar tersebut, dan itu hanya karena miscomunikasi saja antara orang tua siswa dan guru, makanya saya perintahkan untuk di kembalikan uangnya” katanya.

Disinggung bahwa SPP sudah di tanggung pemerintah melalui program dana Biaya Operasional Sekolah (BOS), Budi Endarto berdalih, bahwa Pamor adalah sekolah swasta murni.

“Pamor ini swasta murni, bantuan dari pemerintah tidak cukup membiayai kebutuhan sekolah, makanya kami menwajibkan orang tua siswa punya tanggungjawab, baik itu melalui sumbangan pendidikan atau SPP tiap bulanya,Program membantu siswa tidak mampu pun  tetap kita laksanakan” tambahnya.

“Tidak ada uang pembangunan, apa yang akan di bangun,gedung kita masih bagus ko,kalu tulisan UP di kwitansi terebut adalah uang pangkal” Jawabnya dengan nada berhati-hati.

Dipertegas,uang pangkal untuk apa” Budi Endarto menjawab “ Ya itu uang pangkal sekolah” terangnya denga penuh ragu-ragu. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here