Aneh, Korban Menderita Seumur Hidup, Polres Karawang Nyatakan Kasus Sulit di Tingkatkan Status.

0
14

KARAWANG-Zonadinamika.com.Gelar perkara terhadap kasus dugaan Mall Praktek yang dialami korban Kusniawati, Peristiwa dugaan malpraktek yang di laporkan pada pihak berwajib sejak tanggal 29 Maret 2017 dengan no STTL/512/III/2017/Jabar/Res.Krw,yang diterima oleh Kanit SPKT II Ajun Komisaris Polisi Satu, Budi Susanto,terlihat jalan di tempat.

Sembilan bulan kasus ini tertahan di polres karawang dengan alasan belum lengkap dan harus memanggil saksi dan korban kembali untuk di minta keterangan.

Ditambah penegasan oleh Kesimpulan dari jawaban Majelis Kehormatan Disiplin  Kedokteran Indonesia yang tertuang dalam suratnya 30 Mei 2017, yang dikirimkan pada Affrilia Elisabet,SE dan Bayu Prasetyao, SE selaku penerima kuasa dalam pengurusan peristiwa dugaan Mall  Praktek yang menimpah Kusniawati .

Hasil visum menyimpulkan bahwa telah terjadi robekan yang sangat fatal yaitu laserasi perineum grade 4, dan jelas keterangan dari dokter saat dilakukan visum di RSUD, kalau pihak penyidik masih mengatakan bahwa kasus ini belum layak di tingkatkan stasusnya, ini sangat aneh.

Pernyataan Pak Tera penyidik Polres Karawang dalam kasus ini sangat di pertanyakan? Tegas Liza

Dugaan pemalsuan resume oleh oknum dokter Farid Ghazali terhadap pasien bersalin oleh Kusniawati warga Dusun Krajan Desa Panyingkiran Karawang Jawa Barat hasil rujukan oleh bidan desa bernama  Jeneng Danengsih, Amd.

Surat MKDKI yang di tandatangni oleh Dody Firmanda.dr,Sp.A.MA tersebut,bahwa peristiwa tersebut masuk kategori pengaduan tindak pidana penipuan.

Dugaan kuat oknum dokter yang berpraktek di Klinik Amanda “Mitra Bunda”   nekat melakukan dugaan penipuan pada seorang pasien bersalin dengan membuat diagnosa palsu.

Peristiwa unsur kesegajaan guna mengelabui pasien tersebut di alami oleh Kusniawati warga Dusun Krajan Desa Panyingkiran Karawang Jawa Barat.

Dan pemeriksaan Saksi korban dan korban sudah dimintai keteranganya di polres karawang sesuai dengan surat pelaporan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP)  no B/477/IV/2017/Reskrim.

Sayang, hingga saat ini belum ada titik terang dari pihak penyidik, untuk menentukan tersangka, dan diduga pihak penyidik mulai memble atau termakan omongan oleh pihak-pihak terlapor, sehingga kasus dugaan malpraktek dan pemalsuan resume dan dugaan mal praktej ini seakan terabaikan oleh pihak Polres karawang, ujar Lisa dengan nada tanya.

Kinerja penyidik polres Karawang terkesan tidak propesional, yang katanya harus memeriksa pihak korban untuk kedua kalinya untuk pelengkapan, Liza pun mempertayakan, apakah hasil pemeriksaan yang selama ini dilakukan oleh pihak penyidik tidak serius hingga harus bolak-balik memeriksa korban? Kata Liza dengan nada tanya.

Dulu penyidik menyarankan agar kita meminta surat dari MKDKI, dan surat itu sudah ada, dan kesimpulan nya bahwa dokter tersebut diduga telah melakukan penipuan melalui resume.

Bu Lisa biasa di sapa menerangkan, dengan rincian-rincian yang di tuliskan harus di bayar oleh korban pada kenyataannya tidak sesuai dengan yang di terima oleh korban selama menjalani perawatan medis di Klinik “ Amanda “ Mitra Bunda.

Sebagai contoh, korban harus membayar biaya Ultrasonoghrapic ( USG ) sebesar  Rp. 80.000,- ( Delapan Puluh Ribu Rupiah ), padahal pada kenyataannya korban selama menjalani parawatan medis diklinik tersebut, tidak pernah sekalipun di USG oleh tenaga medis yang ada di klinik “ Amanda “ Mitra Bunda tersebut. Dan masih ada beberapa item yang tertulis di dalam rincian biaya dan sudah di bayar oleh korban  tetapi  tidak di terima oleh korban selama menjalani perawatan di klinik tersebut.”

Aprilia Elisabeth memaparkan dugaan malpraktek yang dilakukan oleh dr. Farid dengan membuat “ diagnose dugaan palsu “ atau diagnosa yang tidak sesuai dengan kasus yang terjadi pada pasien.

Ironisnya kata Lisa,  dr. Farid G SpOG, dengan sadar telah memberikan obat – obat tersebut kepada pasien untuk di konsumsi. Sebagai contoh, menurut data yang tertulis dalam  Resume Medis no K 377 / VI / 2016  tertanggal 20 Juni 2016  yang di keluarkan oleh Klinik “ Amanda “ Mitra Bunda dan ditandatangani oleh Farid G, SpOG, Tensi Darah ( TD ) pasien atas nama Kusniawati  117/80 mmHg atau diagnosa tensi darah pasien normal.

Tapi dr. Farid Ghazali, SpOG telah memberikan obat anti Hypertensi dosis tinggi, Farmoten 25. Demikian juga pemberian obat – obatan yang termasuk dalam golongan obat daftar G atau obat keras yang tidak sesuai dengan kasusnya dan tidak melalui uji laboratorium  yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu kepada pasien.

Seperti pemberian obat Gastrul ( misoprostol, obat untuk menghancurkan janin / aborsi ), Metvel ( metformin / obat anti diabetes ) , dan  Lidokain 4% ( anastesi, untuk kasus ini dosis anjuran 1% ), serta  alat kesehatan yang bernama  Laminaria yang biasa di gunakan untuk membantu membuka mulut rahim pada proses pengambilan janin pada kasus kematian janin di dalam perut  ibu. (tim)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY