MKDKI : Resume Dokter Farid Ghazali Termasuk Dugaan Tindak Pidana Penipuan

0
38

KARAWANG-Zonadinamika.com.Kesimpulan dari jawaban Majelis Kehormatan Disiplin  Kedokteran Indonesia yang tertuang dalam suratnya 30 Mei 2017, yang dikirimkan pada Affrilia Elisabet,SE dan Bayu Prasetyao, SE selaku penerima kuasa dalam pengurusan peristiwa dugaan Mall  Praktek yang menimpah Kusniawati .

Selain dugaan mall praketk juga terjadi dugaan pemalsuan resume oleh oknum dokter Farid Ghazali terhadap pasien bersalin oleh Kusniawati warga Dusun Krajan Desa Panyingkiran Karawang Jawa Barat hasil rujukan oleh bidan desa bernama  Jeneng Danengsih, Amd.

Surat MKDKI yang di tandatangni oleh Dody Firmanda.dr,Sp.A.MA tersebut,bahwa peristiwa tersebut masuk kategori pengaduan tindak pidana penipuan.

Dugaan kuat oknum dokter yang berpraktek di Klinik Amanda “Mitra Bunda”   nekat melakukan dugaan penipuan pada seorang pasien bersalin dengan membuat diagnosa palsu.

Peristiwa unsur kesegajaan guna mengelabui pasien tersebut di alami oleh Kusniawati warga Dusun Krajan Desa Panyingkiran Karawang Jawa Barat.

Peristiwa dugaan malpraktek yang di laporkan pada pihak berwajib sejak tanggal 29 Maret 2017 dengan no STTL/512/III/2017/Jabar/Res.Krw,yang diterima oleh Kanit SPKT II Ajun Komisaris Polisi Satu, Budi Susanto.

Dan pemeriksaan Saksi korban dan korban sudah dimintai keteranganya di polres karawang sesuai dengan surat pelaporan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP)  no B/477/IV/2017/Reskrim.

Sayang, hingga saat ini belum ada titik terang dari pihak penyidik, untuk menentukan tersangka, dan diduga pihak penyidik mulai memble atau termakan omongan oleh pihak-pihak terlapor, sehingga kasus dugaan malpraktek dan pemalsua resume ini terabaikan secara sia-saia, ujar Lisa dengan nada tanya.

Dikatakan, saat korban membuat laporan polisi di dampingi oleh sejumlah anggota LSM GSMB dan seoarang mantan Farmasi Aprilia Elisabeth itu kepada  zonadinamika.com. mengatakan katakan dugaan penipuan yang dilakukan oleh Dokter Farid Ghazali  yang berpraktek di Klinik Amnada Mitra Bunda, sangat merugikan pasien tegasnya.

Bu Lisa biasa di sapa menerangkan, dengan rincian-rincian yang di tuliskan harus di bayar oleh korban pada kenyataannya tidak sesuai dengan yang di terima oleh korban selama menjalani perawatan medis di Klinik “ Amanda “ Mitra Bunda.

Sebagai contoh, korban harus membayar biaya Ultrasonoghrapic ( USG ) sebesar  Rp. 80.000,- ( Delapan Puluh Ribu Rupiah ), padahal pada kenyataannya korban selama menjalani parawatan medis diklinik tersebut, tidak pernah sekalipun di USG oleh tenaga medis yang ada di klinik “ Amanda “ Mitra Bunda tersebut. Dan masih ada beberapa item yang tertulis di dalam rincian biaya dan sudah di bayar oleh korban  tetapi  tidak di terima oleh korban selama menjalani perawatan di klinik tersebut.”

Aprilia Elisabeth pengurus LSM Gerakan Solidaritas Masyarakat Bersatu (GSMB ini memaparkan dugaan malpraktek yang dilakukan oleh dr. Farid dengan membuat “ diagnose dugaan palsu “ atau diagnosa yang tidak sesuai dengan kasus yang terjadi pada pasien.

Ironisnya kata Lisa,  dr. Farid G SpOG, dengan sadar telah memberikan obat – obat tersebut kepada pasien untuk di konsumsi. Sebagai contoh, menurut data yang tertulis dalam  Resume Medis no K 377 / VI / 2016  tertanggal 20 Juni 2016  yang di keluarkan oleh Klinik “ Amanda “ Mitra Bunda dan ditandatangani oleh Farid G, SpOG, Tensi Darah ( TD ) pasien atas nama Kusniawati  117/80 mmHg atau diagnosa tensi darah pasien normal.

Tapi dr. Farid Ghazali, SpOG telah memberikan obat anti Hypertensi dosis tinggi, Farmoten 25. Demikian juga pemberian obat – obatan yang termasuk dalam golongan obat daftar G atau obat keras yang tidak sesuai dengan kasusnya dan tidak melalui uji laboratorium  yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu kepada pasien.

Seperti pemberian obat Gastrul ( misoprostol, obat untuk menghancurkan janin / aborsi ), Metvel ( metformin / obat anti diabetes ) , dan  Lidokain 4% ( anastesi, untuk kasus ini dosis anjuran 1% ), serta  alat kesehatan yang bernama  Laminaria yang biasa di gunakan untuk membantu membuka mulut rahim pada proses pengambilan janin pada kasus kematian janin di dalam perut  ibu. (tim)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY